London, Britania Raya – Seorang aktivis pro-Palestina yang tengah menjalani mogok makan berencana untuk mulai menolak cairan selain makanan. Ia menyatakan kepada Al Jazeera bahwa ia berharap “aksi drastis” ini dapat mendesak pemerintah untuk menanggapi tuntutan protesnya.
Umer Khalid, seorang tahanan yang dikaitkan dengan Palestine Action, telah berhenti makan sejak 13 hari lalu. Saat ini ia masih menerima cairan yang mengandung elektrolit, gula, dan garam, namun mengatakan akan berhenti minum seluruhnya mulai Sabtu mendatang.
Artikel Rekomendasi
Tubuh dapat bertahan berminggu-minggu tanpa makanan, namun dehidrasi dipastikan akan berakibat fatal dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Eskalasi ini terjadi beberapa hari setelah tiga tahanan lainnya yang terafiliasi dengan Palestine Action mengakhiri protes mogok makan mereka dengan klaim kemenangan.
“Satu-satunya hal yang tampaknya berdampak, baik positif maupun negatif, adalah aksi yang drastis,” kata Khalid (22) kepada Al Jazeera dari penjara melalui perantara. “Mogok ini mencerminkan keseriusan dari pemenjaraan ini. Berada di penjara ini bukanlah hidup. Hidup kami terhenti. Dunia berputar, dan kami duduk di ruang beton. Mogok ini mencerminkan urgensi tuntutan saya.”
Khalid menuntut dibebaskan dengan jaminan segera; diakhirinya dugaan sensor di penjara – otoritas dituduh menahan surat, panggilan telepon, dan buku serta menolak hak kunjungan; penyelidikan atas dugaan keterlibatan Britania dalam operasi militer Israel di Gaza; serta pembukaan rekaman pengintaian dari penerbangan mata-mata Angkatan Udara Kerajaan (RAF) yang terbang di atas Gaza pada 1 April 2024, saat pekerja bantuan Britania tewas dalam serangan Israel.
Penerobosan Brize Norton
Khalid adalah satu dari lima aktivis yang dituduh menerobos pangkalan udara terbesar Britania, RAF Brize Norton di Oxfordshire, pada bulan Juni dan mengecat dua pesawat pengisi bahan bakar dan transportasi Voyager. Insiden yang diklaim oleh Palestine Action ini, menurut pemerintah Britania, menyebabkan kerusakan senilai jutaan pound sterling. Pemerintah kemudian menetapkan grup protes tersebut sebagai organisasi “teroris”.
Para pengkritik telah mengecam pelarangan itu sebagai tindakan melampaui batas yang tidak liberal, mengingat tujuan yang dinyatakan Palestine Action adalah menggunakan cara-cara non-kekerasan untuk melawan perang genosida Israel terhadap warga Palestina dan apa yang mereka sebut sebagai keterlibatan Britania di dalamnya.
Khalid membantah tuduhan terhadapnya mengenai konspirasi untuk melakukan kerusakan kriminal dan konspirasi untuk memasuki tempat terlarang dengan tujuan merugikan keselamatan atau kepentingan Britania.
Ia merupakan bagian dari kelompok delapan tahanan yang dikaitkan dengan Palestine Action yang memulai mogok makan bergilir pada November lalu. Minggu lalu, tiga dari mereka – dua di antaranya berada di ambang kematian – mengakhiri protes mereka. Khalid adalah satu-satunya yang masih menolak makanan.
Kedelapan tahanan yang dituduh terkait insiden yang diklaim Palestine Action telah bergabung dalam mogok makan bergilir sejak November. Baris atas dari kiri: Amu Gib, Heba Muraisi, Jon Cink, dan Kamran Ahmed. Baris bawah dari kiri: Qesser Zuhrah, Lewie Chiaramello, Teuta Hoxha, dan Umer Khalid [Courtesy of Prisoners for Palestine]
Mereka yang kini mulai makan kembali menyatakan bahwa peningkatan hak-hak narapidana menandakan konsesi. Penolakan kontrak pertahanan Britania yang dilaporkan kepada Elbit, produsen senjata terbesar Israel, juga ditafsirkan oleh mereka sebagai sebuah kemenangan.
Sepanjang mogok makan, pemerintah Britania menyatakan tidak memiliki kewenangan atas masalah jaminan karena hal tersebut merupakan ranah yudikatif untuk memutuskan. Pemerintah juga bersikeras bahwa prosedur kesejahteraan narapidana telah diikuti.
Mengenai tuntutan Khalid lainnya, tahun lalu, Partai Buruh yang merupakan oposisi memblokir rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota parlemen sayap kiri Jeremy Corbyn yang mendukung penyelidikan resmi atas keterlibatan Britania dalam perang di Gaza.
Dan pada bulan April, Kementerian Pertahanan mengatakan kepada surat kabar The Times bahwa mereka memiliki rekaman video dari pesawat pengintai RAF yang terbang di atas Gaza pada hari serangan Israel yang menewaskan para pekerja bantuan tersebut, namun tidak dapat mengungkap detail lebih lanjut dengan alasan keamanan nasional.
Britania menyatakan telah menerbangkan pesawat mata-mata di atas Gaza selama serangan Israel untuk mencari tawanan yang hilang, namun para kritikus mempertanyakan kemungkinan berbagi intelijen dengan Israel.
Asim Qureshi, direktur penelitian di kelompok kampanye Cage, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penolakan pemerintah untuk bertemu dengan Khalid guna bernegosiasi atas tuntutannya “mengindikasikan kurangnya kepedulian mereka terhadap nyawa pria ini, yang bertindak berdasarkan prinsipnya dalam konteks sebuah genosida”.
Kementerian Kehakiman tidak memberikan komentar mengenai pemenjaraan atau tuntutan Khalid.
‘Saya Menangis Hingga Tertidur’
Keluarga dan teman-teman Khalid mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka sangat khawatir karena ia mengidap distrofi otat limb-girdle, suatu kondisi yang menyebabkan kelemahan dan penyusutan otot.
“Saya merindukannya,” ujar ibunya, Shabana Khalid, sambil menahan tangis. “Dia mulai merasa lelah.”
“Pikiran pertama saya ketika bangun adalah Umer. Beberapa malam, saya menangis hingga tertidur.”
Sementara ia sendiri sedang dalam proses pemulihan dari kanker dan merawat adik perempuannya yang disabilitas, perjalanan ke Penjara Wormwood Scrubs di London, yang berjarak 320 km dari rumah keluarga di Manchester, penuh dengan tantangan logistik. Terakhir kali ia melihat putranya adalah pada 26 Desember dan tidak tahu kapan dapat mengunjunginya lagi.
Ia menuduh Wormwood Scrubs menolak hak kunjungan, dengan menyatakan bahwa dia dan teman-teman Khalid telah mengajukan permohonan untuk menemuinya tetapi diberitahu bahwa tidak ada jadwal kunjungan selama berminggu-minggu.
“Kekhawatiran saya adalah kondisinya akan menurur dengan sangat, sangat cepat,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, Wormwood Scrubs belum menanggapi permintaan komentar dari Al Jazeera.
Kakak Umer, Usman, seorang lulusan teknik mesin, mengatakan kepada Al Jazeera: “Ketika Umer mengatakan akan melakukan sesuatu, ia sungguh-sungguh. Dan sesedih dan semengerikan mungkin kedengarannya, saya pikir dalam pikirannya sendiri ia siap mempertaruhkan nyawanya untuk perjuangan ini.”
Usman mengatakan bahwa meski mendukung tuntutan protes saudaranya, “dari sudut pandang yang sedikit egois dan personal, saya harap ia tidak [mulai menolak air].”
Menurut kelompok Prisoners for Palestine yang mendukung para pengunjuk rasa, Umer telah meminta petugas penjara “untuk tidak campur tangan jika ia tidak sadarkan diri”.
Pada bulan Desember, ia mengakhiri mogok makan selama 12 hari karena kesehatannya yang memburuk.
Ibunya mengatakan bahwa sebelum masuk penjara, ia mengelola kondisi langkanya dengan hati-hati melalui diet seimbang dan banyak berolahraga.
“Alhamdulillah, saya baik-baik saja.”
“Aku merasa sangat kuat baik secara mental maupun fisik,” ujar Umer. “Biasanya aku bisa menggunakan gym penjara sekali seminggu, tapi aku tidak memakainya selama aksi mogokku.”
Ia menyebutkan menghabiskan waktu dengan beribadah dan membaca buku.
Jadwal persidangannya ditetapkan pada Januari 2027, dan pada saat itu ia telah menjalani satu setengah tahun dalam penjara – jauh melebihi batas maksimum penahanan praperadilan yang standar enam bulan.
Temannya, Danyal Osman (29), mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia merasa “sangat cemas” namun “sepenuhnya” mendukung Umer “karena kita semua menginginkan kebebasan dirinya.”