Kurva Phillips dan Peran Harapan

Kurva Phillips dan Peran Harapan

Kurva Phillips telah lama menjadi konsep dasar makroekonomi yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara inflasi dan pengangguran. Dinamakan berdasarkan nama ekonom AW Phillips, kurva tersebut menunjukkan hubungan terbalik antara kedua variabel ini: ketika pengangguran tinggi, inflasi cenderung rendah, dan sebaliknya. Namun, seiring berjalannya waktu, para ekonom menyadari bahwa Kurva Phillips tidak semudah yang terlihat pada awalnya. Peran ekspektasi dalam membentuk hubungan ini telah menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan.

Dalam bentuk aslinya, Kurva Phillips menyiratkan trade-off antara pengangguran dan inflasi. Para pengambil kebijakan percaya bahwa mereka dapat memanipulasi tingkat pengangguran untuk mencapai tingkat inflasi yang diinginkan. Namun hubungan tersebut mulai retak pada tahun 1970-an ketika terjadi fenomena yang disebut stagflasi, yang ditandai dengan tingginya pengangguran dan tingginya inflasi secara bersamaan. Hal ini menantang pemahaman tradisional tentang Kurva Phillips dan mengarahkan para ekonom untuk mencari penjelasan yang lebih komprehensif.

Salah satu aspek kunci yang hilang dari Kurva Phillips asli adalah peran ekspektasi. Jelas terlihat bahwa ekspektasi masyarakat terhadap inflasi di masa depan dapat berdampak signifikan terhadap hubungan antara inflasi dan pengangguran saat ini. Jika individu memperkirakan inflasi yang lebih tinggi di masa depan, mereka akan menyesuaikan perilaku mereka, menuntut upah yang lebih tinggi untuk mengkompensasi kenaikan harga yang diperkirakan. Dorongan upah ini dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi saat ini, meskipun tingkat pengangguran masih tinggi.

Demikian pula, jika individu mengharapkan inflasi yang lebih rendah, mereka mungkin menerima kenaikan upah yang lebih rendah, sehingga menyebabkan inflasi yang lebih rendah pada saat ini. Harapan-harapan ini dapat mempengaruhi daya tawar pekerja dan perilaku perusahaan, mengubah dinamika pasar tenaga kerja dan pada akhirnya mempengaruhi hubungan Kurva Phillips.

MEMBACA  Singapura berencana meningkatkan kecerdasan buatan dengan rencana quantum computing dan pusat data.

Konsep ekspektasi adaptif menjadi terkenal ketika para ekonom berupaya memasukkan ekspektasi ke dalam kerangka Kurva Phillips. Harapan adaptif menunjukkan bahwa individu mendasarkan harapan mereka pada pengalaman masa lalu. Misalnya, jika inflasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat cenderung memperkirakan tingkat inflasi yang sama di masa depan. Hal ini menyiratkan ramalan yang menjadi kenyataan, karena ekspektasi inflasi yang tinggi menyebabkan kenaikan upah dan kenaikan harga, yang mengakibatkan inflasi yang sangat tinggi.

Namun, ekspektasi adaptif mempunyai keterbatasan. Mereka berasumsi bahwa masyarakat tidak sepenuhnya memasukkan semua informasi yang tersedia ke dalam ekspektasi mereka, dan mereka lambat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Hal ini menyebabkan berkembangnya teori alternatif, seperti ekspektasi rasional, yang mengusulkan agar individu membentuk ekspektasi berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk data ekonomi dan tindakan pembuat kebijakan.

Ekspektasi rasional menyatakan bahwa masyarakat mempunyai pandangan ke depan dan dapat mengantisipasi perubahan kondisi ekonomi. Jika masyarakat yakin bahwa pembuat kebijakan akan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi inflasi, mereka akan menyesuaikan ekspektasi mereka, sehingga penyesuaian upah dan harga akan lebih cepat. Hal ini dapat menghasilkan Kurva Phillips yang lebih datar, karena dampak perubahan pengangguran terhadap inflasi menjadi lebih kecil.

Kesimpulannya, Kurva Phillips telah berkembang seiring berjalannya waktu untuk memasukkan peran penting dari ekspektasi. Hubungan antara inflasi dan pengangguran tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi perekonomian saat ini tetapi juga oleh ekspektasi individu terhadap inflasi di masa depan. Teori ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional telah menjelaskan bagaimana ekspektasi ini membentuk dinamika pasar tenaga kerja dan perekonomian secara keseluruhan. Menyadari peran ekspektasi sangatlah penting bagi pembuat kebijakan untuk mengelola inflasi dan pengangguran secara efektif.

MEMBACA  Peran Pengeluaran Pemerintah dalam Stabilitas Makroekonomi