Setelah pandemi, kebiasaan kerja seperti coffee badging dan kerja dari sofa mulai berkurang. Semakin banyak perusahaan yang mencari cara baru untuk mengawasi kehadiran karyawan. Sekarang, perusahaan ritel besar Target memperketat aturan absensi dengan sistem poin baru.
Mulai September ini, Target akan melacak keterlambatan dan ketidakhadiran tanpa izin karyawan toko dan gudang menggunakan sistem poin, seperti yang dikonfirmasi perusahaan pada Business Insider.
Pelanggaran kehadiran akan dihitung dan ditindaklanjuti: seperempat poin untuk terlambat lebih dari delapan menit, satu poin untuk tidak masuk shift tanpa izin manajer, dan tiga poin untuk absen tanpa memberi tahu atasan. Poin-poin ini akan hangus setiap 365 hari.
Semakin banyak poin, semakin berat konsekuensinya. Jika karyawan mengumpulkan tiga poin, mereka harus bertemu dengan supervisor; setelah lima poin, ada sesi konseling. Dan jika poin mencapai 12, mereka akan dipecat.
CEO baru, aturan baru setelah penjualan lesu
Sistem absensi ini hadir saat CEO baru Target, Michael Fiddelke, ingin meningkatkan operasi toko dan pengalaman belanja pelanggan. Saat ini, perusahaan "fokus untuk kembali bertumbuh, dan meningkatkan pengalaman pelanggan adalah prioritas utama," kata juru bicara Target kepada Business Insider.
Fiddelke diangkat menjadi CEO pada awal Februari tahun ini setelah bekerja di perusahaan selama dua dekade, mulai sebagai magang pada tahun 2003. Dia menjadi CEO di saat bisnis sedang sulit; setelah dia menjabat, Target melaporkan penurunan penjualan yang sebanding selama empat kuartal berturut-turut, meskipun mereka memperkirakan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 2% tahun ini. Dalam beberapa tahun terakhir, pelanggan juga mengeluh tentang harga tinggi, toko yang kekurangan staf, dan lorong yang berantakan serta tidak rapi.
Perusahaan senilai $63 miliar dengan lebih dari 400.000 karyawan ini bukan satu-satunya retailer besar AS yang menerapkan sistem poin. Walmart dan Amazon juga sudah memperkenalkan kebijakan serupa untuk jutaan karyawannya. Ini adalah salah satu cara perusahaan memperketat aturan keterlambatan.
Target tidak menanggapi permintaan komentar dari Fortune.
Perusahaan semakin ketat mengawasi kehadiran setelah pandemi
Sejak pandemi mereda dan kantor mulai dibuka, banyak pekerja yang kembali bekerja dengan rasa engan. Menanggapi kubikel kosong dan karyawan yang tidak muncul, perusahaan mulai mencari cara untuk mengawasi keberadaan karyawan.
Pengawasan karyawan menjadi taktik yang populer. Pada tahun 2023, perusahaan game Roblox mulai memantau berapa kali karyawan mengecap kartu ID masuk gedung, serta melacak data lokasi dari laptop dan ponsel perusahaan untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan RTO tiga hari seminggu. Pada tahun yang sama, perusahaan media Bloomberg menyuruh karyawannya menggunakan sistem internal untuk mencatat lokasi mereka setiap hari. Karyawan yang tidak datang ke kantor selama tiga hari seminggu akan mendapat peringatan lisan dari manajer.
Pada tahun 2024, Dell mulai melacak penggunaan kartu akses elektronik dan VPN karyawannya untuk melihat siapa yang datang ke kantor setiap minggu. Berdasarkan seberapa sering mereka masuk, karyawan diberi kode warna: bendera biru untuk mereka yang selalu datang, bendera hijau dan kuning untuk yang setengah rutin, dan bendera merah untuk karyawan hibrid yang sering minderkan aturan RTO.
"Dalam ‘revolusi teknologi global’ saat ini, kami percaya hubungan tatap muka yang dipadukan dengan perodu yang fleksibel sangat penting untuk mendorong inovasi dan nilai tambah," kata Dell kepada Fortune dalam sebuah pernyataan pada tahun 2024.
Bahkan beberapa negara juga memberlakukan reformasi absensi. Jerman yang memiliki rata-rata 14,8 hari sakit per tahun, salah satu tingkat ketidakhadiran tertinggi di Eropa mengambil tindakan tegas terhadap karyawan mangkir.
Kanselir Friedrich Merz dan partainya mengusulkan sebuah rencana awal tahun ini. Rencana itu memberi bonus kepada karyawan yang mengambil cuti sakit lima hari atau kurang setiap tahunya, dan memotong gaji bagi mereka yang sering mangkir. Tujuannya adalah mendorong pekerja dengan masalah kesehatan ringan, seperti pilek atau sakit perut, untuk tetap masuk kerja.