Swedia Hapuskan Pajak Kekayaan 20 Tahun Lalu, Kini Jadi ‘Surga bagi Para Superkaya’

Selama abad ke-20, Swedia punya reputasi bagus sebagai salah satu negara paling setara di Eropa. Tapi dalam 20 tahun terakhir, negara ini berubah jadi apa yang disebut wartawan Andreas Cervenka sebagai "surga untuk orang super kaya".

Sekarang, Swedia punya rasio miliarder dollar tertinggi di dunia, dan rumah bagi banyak perusahaan startup “unicorn” yang nilainya minimal $1 miliar, seperti Klarna dan Spotify.

Penghapusan pajak kekayaan 20 tahun lalu adalah bagian dari cerita ini – bersamaan dengan diperkenalkannya potongan pajak yang besar untuk pekerjaan rumah dan renovasi. Dua dekade kemudian, banyaknya rumah di Swedia yang mempekerjakan pembersih adalah salah satu tanda bahwa negara ini semakin terbagi dua.

Sebagai bagian dari penelitian antropologi saya tentang hubungan sosial yang dihasilkan sistem pajak berbeda, saya bekerja sama dengan para pensiunan di selatan Stockholm untuk tahu perasaan mereka tentang penurunan tingkat pajak di masa tua mereka.

Tren ini dibarengi dengan menyusutnya negara kesejahteraan. Banyak yang saya wawancarai menyesal Swedia tidak lagi punya proyek bersama untuk membangun masyarakat yang lebih bersatu.

“Kami para pensiunan bisa lihat penghancuran apa yang kami bangun, yang dimulai saat kami masih anak-anak,” jelas Kjerstin (74). “Saya lahir setelah perang dan membangun masyarakat ini seumur hidup, bersama warga lainnya. [Tapi] dengan pajak diturunkan dan jaminan sosial diambil… sekarang kami tidak membangun apa-apa bersama.”

Koefisien gini Swedia – cara umum mengukur ketidaksetaraan – telah mencapai 0.3 belakangan ini, naik dari sekitar 0.2 di tahun 1980-an. “Sekarang ada 42 miliader di Swedia – jumlahnya naik banyak,” kata Bengt (70). “Mereka datang dari mana? Dulu bukan negara di mana orang bisa mudah jadi kayak gitu.”

MEMBACA  Bukti Rencana Perubahan Starbucks Berhasil Ditemukan CEO Brian Niccol di Forum Reddit

Tapi seperti pensiunan lain yang saya temui, Bengt mengakui peran generasinya dalam perubahan ini. “Saya dari generasi yang ingat bagaimana kami membangun Swedia jadi negara kesejahteraan, tapi banyak yang berubah. Masalahnya, kami tidak protes. Kami tidak sadar kami sedang menjadi negara orang kaya.”

Kebalikan dari mimpi Amerika

Pajak kekayaan diperkenalkan di Swedia tahun 1911. Sekitar waktu yang sama, langkah pertama menuju negara kesejahteraan dimulai – terutama pengenalan pensiun negara tahun 1913.

Istilah yang digunakan, *folkhemmet* (“rumah rakyat”), artinya kenyamanan dan keamanan untuk semua secara setara. Bisa dibilang ini adalah kebalikan ideologis dari mimpi Amerika – tujuannya bukan keistimewaan, tapi standar hidup wajar dan layanan universal.

Setelah Perang Dunia II, pajak kekayaan dinaikkan beberapa kali hingga mencapai tingkat tertinggi 4% untuk orang kaya di tahun 1980-an. Tapi total pendapatan dari pajak ini masih relatif rendah, tidak pernah lebih dari 0.4% dari GDP Swedia pasca perang.

Akhir tahun 1980-an, angin politik mulai berubah di Swedia, sejalan dengan privatisasi layanan publik dan deregulasi pasar finansial di beberapa negara Eropa.

Satu kritik terhadap pajak kekayaan Swedia adalah bahwa itu regresif, mengenakan pajak pada kekayaan kelas menengah sementara orang terkaya dengan perusahaan besar dibebaskan. Kritik lain adalah bahwa pajak ini mendorong penghindaran pajak.

Para pensiunan yang saya wawancarai berkata mereka tidak terlalu memikirkannya sampai pajak itu dihapuskan tahun 2006, setahun setelah pajak warisan dihapus.

“Saat pajak kekayaan dihapus,” kata Marianne (77), “Saya tidak berpikir tentang jutaer yang diberi hadiah, karena… kami tidak punya banyak aristokrat kaya yang memiliki segalanya. Menghapus pajak kekayaan dan warisan tampaknya seperti hal praktis, tidak begitu politis.”

MEMBACA  Laporan Mengungkap X Elon Musk Memberikan Tanda Centang kepada Para Pemimpin Kelompok Teroris

Marianne dan pensiunan lain bercerita bahwa negara kesejahteraan dibangun melalui usaha bersama, bukan proyek Robin Hood – mengambil dari kaya untuk beri ke miskin. Gagasan ini, bahwa negara kesejahteraan Swedia dibangun oleh orang-orang sederajat, membuat para pensiunan ini tidak memikirkan soal penumpukan kekayaan.

Meski Swedia masih mengenakan pajak properti dan berbagai bentuk pendapatan modal, banyak pensiunan sekarang menganggap penghapusan pajak kekayaan sebagai langkah kunci yang mengubah masyarakat Swedia dari negara kesejahteraan sosial demokrat menjadi sesuatu yang baru – tempat para miliader dan perpecahan sosial yang meningkat.

“Saya pikirkan anak-anak saya, dua putri saya yang bekerja dan punya keluarga muda,” kata Jan (72). “Sebagai anak, mereka diberi jaminan oleh negara kesejahteraan, mereka bersekolah di sekolah bagus dan punya akses ke sepak bola, kelas drama, dan dokter gigi – tapi sekarang saya khawatir masyarakat akan menjadi lebih buruk untuk mereka.”

Seperti orang lain yang saya ajak bicara, Jan menyesali perannya sendiri dalam perubahan ini. “Sekarang saya pikir itu sebagian salah saya,” ujarnya.

Kami jadi malas dan terlalu nyaman, pikir negara kesejahteraan Swedia sudah aman, tidak khawatir tentang penghapusan pajak kekayaan, tidak pikir itu akan mengubah apa-apa… tapi saya rasa itu ada pengaruhnya.

## ‘Masyarakat yang lebih manusiawi’

Penelitian saya menunjukkan dampak pajak kekayaan, atau ketiadaannya, bukan hanya tentang aliran pendapatan fiskal dan redistribusi kekayaan. Itu punya akibat sosial yang lebih luas, dan bisa jadi dasar bagi visi orang tentang masyarakat.

Hanya tiga negara Eropa saat ini yang memungut pajak kekayaan penuh: Norwegia, Spanyol, dan Swiss. Selain itu, Prancis, Italia, Belgia, dan Belanda menerapkan pajak kekayaan pada aset terpilih, tapi bukan pada kekayaan keseluruhan seseorang.

MEMBACA  Investasi di industri otomotif naik 43% dalam 5 tahun: pemerintah

Di Swedia setidaknya, pertanyaan sekarang bukan hanya apakah pajak kekayaan berhasil atau tidak, tapi tentang masyarakat seperti apa yang mereka wakilkan – salah satu *folkhemmet* (rumah rakyat), atau surga untuk orang kaya.

“Pajak dulu hal yang wajar [waktu] saya tumbuh di tahun 1950-an,” kenang Kjerstin. “Saya ingat berpikir waktu kelas dua SD, bahwa saya akan selalu diurus, bahwa saya tidak pernah perlu khawatir.”

Merenungkan betapa berbedanya hidup di Swedia sekarang, dia berkata: “Sekarang orang tidak mau bayar pajak – kadang bahkan saya sendiri tidak mau. Semua orang mikirin apa yang mereka dapat kembali dan bagaimana jadi kaya, daripada membangun sesuatu bersama-sama.”

“Saya rasa kita tidak bisa bilang: ‘Saya bayar pajak sekian jadi saya harus dapat balik yang sama.’ Sebaliknya, kita harus perhatikan fakta bahwa kita hidup di masyarakat yang lebih manusiawi, di mana semua orang tahu dari kelas dua SD bahwa mereka akan diurus.”

Nama-nama peserta penelitian telah diubah.

**Miranda Sheild Johansson**, Peneliti Senior Antropologi Sosial, UCL

Artikel ini diterbitkan ulang dari **The Conversation** di bawah lisensi Creative Commons. Baca **artikel aslinya**.

Tinggalkan komentar