Startup AI Percaya Chrome Google Rentan terhadap Gelombang Baru Browser Cerdas

Banyak startup AI mengubah cara kita mencari di internet dan ini bisa ancam dominasi Google dalam pencarian. Ini bisa jadi tantangan terbesar sejak Google naik pesat di akhir taun 90an.

Minggu ini, Perplexity, startup dari San Francisco yg nilainya $14 miliar, luncurkan browser web berbasis AI untuk pelanggan terpilih. OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, juga sedang kerjakan browser AI sendiri, menurut Reuters.

Browser-browser AI ini langsung targetin dominasi Google, khususnya lewat Chrome, dan bisa ubah industri pencarian dengan pengalaman baru, kata Steve Jang, pendiri Kindred Ventures, investor awal Perplexity.

“Setiap siklus teknologi, orang selalu tanya apakah startup baru bisa ambil pasar dari platform lama, dan mereka selalu bisa,” katanya ke Fortune.

Browser AI Perplexity, Comet, punya chatbot AI yg gantikan pencarian. Juga ada fitur Comet Assistant yg bisa atur janji, kirim email, beli barang, dan kasih info harian.

Kehadiran produk AI ini mungkin tepat waktu karena Google lagi hadapi ketidakpastian akibat kasus antitrust. Salah satu solusinya bisa lepas Chrome, yg sedang jadi saingan para startup AI.

Google belum beri tanggapan.

Tapi belum jelas bagaimana pasar pencarian akan berubah. Chrome masih unggul karena dipakai lebih dari 3 miliar pengguna, sekitar 68% pasar, dan punya banyak data pengguna. Lagipula, ganti browser itu tidak mudah.

Tapi dalam hal AI, OpenAI sudah saingi Google. Survei Wedbush menunjukkan 29% konsumen pakai OpenAI secara rutin, vs 30% pakai Gemini milik Google.

Paparo bilang browser AI harus jauh lebih baik untuk bikin orang pindah. “Apa yg bisa browser Perplexity atau OpenAI lakukan 10 kali lebih baik dari Google? Mereka sudah punya pencarian, AI, dan browser. Itu susah,” katanya.

MEMBACA  Hari Aksi Mogok di Prancis Uji Rencana Anggaran Perdana Menteri Baru

Sayangnya, Comet masih kadang berhalusinasi, seperti dilaporkan TechCrunch.

Tapi Jang yakin Perplexity bisa maju. Selain Comet, mereka juga punya aplikasi mobile dengan suara dan fitur AI canggih lewat Perplexity Labs.

“Google mungkin raksasa, tapi Perplexity adalah pendatang baru yg siap menyerang,” katanya.

“Monopoli di teknologi itu peluang besar untuk startup, dan memang harus ditantang,” tambahnya.