Setelah data baru menunjukan “resesi belajar” di Amerika selama lebih dari satu dekade, seorang psikolog terkenal membantah klaim kalau imigrasi adalah penyebabnya—dan memperingatkan bahwa teknologi di dalam kelas adalah pelaku sebenarnya.
Tahun lalu, Stephen Miller, wakil kepala staf Gedung Putih untuk kebijakan dan penasihat keamanan dalam negeri, bilang imigrasi adalah alasan di balik sebagian besar masalah sosial Amerika.
“Kalau kamu kurangi imigrasi dari nilai ujian, tiba-tiba nilai ujian kita naik drastis,” katanya. “Masalah demi masalah, kita bicara soal ini seolah-olah itu terjadi begitu saja. Sekolah tiba-tiba gagal. Kejahatan kekerasan tiba-tiba meledak. Defisit tiba-tiba melonjak. Ini semua hasil dari pilihan kebijakan sosial yang kita buat lewat imigrasi.”
Menurut Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University dan penulis 10 Rules for Raising Kids in a High-Tech World, serangkaian nilai ujian yang buruk baru-baru ini memicu sentimen tersebut.
Data terbaru datang dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan Universitas Harvard dan Proyek Peluang Pendidikan Universitas Stanford, yang merilis Education Scorecard nasional bulan ini yang menunjukan penurunan prestasi membaca dan matematika mulai tahun 2013. Dari 2015 hingga 2025, rata-rata nilai membaca turun hampir satu tingkat kelas, dengan penurunan di hampir setiap negara bagian. Ketika Twenge memposting tentang nilai-nilai ini di media sosial, balasannya menunjukan beberapa pengguna mengaitkan tren ini dengan masuknya imigran ke AS.
Namun, dalam sebuah postingan Substack baru-baru ini, dia menunjukan data Sensus yang memperlihatkan proporsi anak-anak di bawah 18 tahun yang lahir di luar negeri di AS naik dari 3,37% pada tahun 2015 menjadi hanya 4,36% pada tahun 2024.
“Bahkan jika kita asumsikan anak-anak lahir di luar negeri punya nilai membaca lebih rendah—dan itu pasti tidak berlaku untuk semuanya—ini perubahan yang terlalu kecil untuk menjelaskan penurunan dramatis nilai membaca,” kata Twenge.
Dia menemukan pola serupa pada orang dewasa lahir di luar negeri, yang merupakan 16,47% dari populasi AS pada tahun 2015 dan 17,61% pada tahun 2024, membuatnya menyimpulkan bahwa tidak ada peningkatan yang cukup besar dalam populasi imigran AS untuk menyebabkan penurunan tajam nilai ujian.
Penelitian bahkan mungkin menunjukan bahwa proporsi imigran yang lebih besar di dalam kelas bisa meningkatkan kinerja ujian. Sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional menemukan bahwa siswa yang lahir di AS dengan paparan tinggi terhadap siswa imigran di sekolah mereka punya nilai ujian membaca dan matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa lainya dengan paparan imigran yang lebih rendah. Hasil ini bertahan, bahkan ketika siswa imigran memiliki kinerja yang lebih rendah dari teman sebaya yang lahir di AS. Para peneliti menduga salah satu alasan untuk hasil ini bisa jadi karena terpapar anak-anak yang berperilaku lebih baik menyebabkan ruang kelas yang tidak terlalu mengganggu, mencatat bahwa siswa lahir di luar negeri lebih jarang dihukum daripada siswa lahir di AS.
Sementara itu, penindasan baru-baru ini terhadap imigran terasa di dalam kelas. sebuah makalah kerja yang diterbitkan tahun lalu oleh penulis yang sama menemukan bahwa di antara siswa Florida, ada penurunan yang cukup besar namun signifikan dalam nilai ujian bahasa Spanyol, baik bagi siswa lahir di luar negeri maupun yang lahir di AS, setelah peningkatan intensitas penegakan imigrasi di wilayah tersebut.
Retorika tentang imigran yang menurunkan sistem pendidikan dan ekonomi telah tumbuh seiring kebijakan administrasi Trump untuk memperketat perlindungan perbatasan dan deportasi. Presiden Donald Trump berargumen, misalnya, bahwa imigran mengambil pekerjaan dari pekerja yang lahir di AS. Namun, klaim tentang individu lahir di luar negeri yang berdampak negatif pada ekonomi telah bertentangan dengan penelitian baru. Penindakan imigrasi telah menyebabkan lebih sedikit partisipasi tenaga kerja, bahkan di antara pekerja AS, dan data lain menunjukan imigran memakan biaya lebih sedikit pada pemerintah AS daripada warga yang lahir di AS, sebagian karena banyak yang datang ke negara itu setelah menyelesaikan atau tidak lagi sekolah.
Kenapa teknologi di balik turunnya nilai ujian?
Daripada imigrasi dampak negatif nilai ujian, Twenge malah berargumen bahwa penilaian membaca dan matematika yang buruk lebih kuat korelasinya dengan naiknya teknologi di dalam dan luar kelas, menyajikan siswa dengan akses mudah ke platform media soisal yang mengganggu.
“Waktunya cocok: Penggunaan media sosial harian meroket popularitasnya mulai awal 2010-an, dan menjadi semakin algoritmik sepanjang dekade itu,” katanya. “Media sosial dan media digital lainya—entah itu di telepon atau laptop, bahkan laptop yang dikeluarkan sekolah—mengganggu siswa di kelas ketika mereka seharusnya belajar.”
Twenge bukan yang pertama membuat hubungan ini. Awal tahun ini, ilmuwan saraf Jared Cooney Horvath berargumen Gen Z akan menjadi generasi pertama yang secara kognitif kurang mampu dari orangtua meraka, mengaitkan penurunan nilai ujian dengan peningkatan waktu layar dan menyalahkan akses siswa ke teknologi di kelas tanpa batasan.
Tahun 2017, Fortune melaporkan bahwa nilai ujian sekolah umum Maine tidak meningkat dalam 15 tahun sejak menerapkan Inisiatif Teknoyoji Pembelajaran Maine yang memasang 17.000 laptop Apple di kelas kelas 7 di 243 sekolah menengah.
Masalah teknologi telah berlanjut di berbagai tingkat kelas bangku kuliah.