Amerika Serikat berencana mendorong perusahaan pembuat chip untuk menyamai jumlah semikonduktor yang biasanya mereka impor dari luar negeri dengan produksi di dalam negeri. Kalau tidak, mereka harus bayar tarif, lapor Wall Street Journal pada hari Jumat.
Presiden Donald Trump meningkatkan usahanya untuk memindahkan produksi semikonduktor kembali ke AS. Dia menawarkan pembebasan dari tarif sekitar 100% untuk perusahaan yang produksi di dalam negeri.
Perusahaan yang tidak bisa menjaga rasio produksi dalam negeri dan impor 1:1 akan terkena tarif, kata Journal tersebut.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengusulkan ide ini kepada para eksekutif perusahaan chip. Dia bilang ini mungkin perlu untuk keamanan ekonomi.
“Amerika tidak bisa bergantung pada impor luar negeri untuk produk semikonduktor yang penting bagi keamanan nasional dan ekonomi kami,” kata juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, seperti dikutip koran itu. Dia menambahkan bahwa laporan tentang kebijakan harus dianggap sebagai spekulasi saja, kecuali sudah diumumkan resmi.
Gedung Putih dan Kementerian Perdagangan AS belum langsung menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Langkah Trump telah mendorong perusahaan dalam dan luar negeri untuk investasi ratusan miliar dolar guna memperluas manufaktur di AS.
Menurut laporan itu, perusahaan yang berjanji membuat chip di AS akan dapat kredit untuk volume yang dijanjikan. Mereka boleh impor tanpa tarif sampai pabriknya selesai, sebagai bantuan awal untuk meningkatkan kapasitas.
Aturan 1:1 “akan sangat sulit dilaksanakan dan mungkin butuh waktu bertahun-tahun. Ini justru bisa menguntungkan perusahaan yang sudah punya pabrik di AS,” kata John Belton, manajer portofolio di Gabelli Funds.
Saham GlobalFoundries, produsen semikonduktor kontrak terbesar ketiga di dunia, dan perusahaan chip Intel, naik 5%. Kedua perusahaan ini termasuk sedikit perusahaan chip yang punya kapasitas manufaktur besar di AS.
GlobalFoundries yang berbasis di Malta, New York, punya rencana investasi $16 miliar, termasuk perluasan pabrik di New York dan Vermont.