Ekspor pakaian dan tekstil Sri Lanka naik 7,96% pada Mei 2026, mencapai $394,14 juta. Ini jadi tanda kalau permintaan dari pasar-pasar utama mulai pulih setelah awal tahun yang sulit.
Amerika Serikat memimpin pertumbunan ini. Pengiriman ke AS naik 15,36% jadi $149,96 juta. Pertumbuhan ekspor ini terjadi saat Sri Lanka bersiap untuk fase penting dalam hubungan dagang dengan AS.
Srilanka lagi ikut dalam penyelidikan Section 301 oleh kantor Perwakilan Dagang AS. Masalahnya tentng larangan impor barang yang terkait kerja paksa. Hasil penyelidikan ini bisa bikin tarif tambahan 10% atau 12,5% untuk barang-barang tertentu.
Menurut laporan pemerintah AS yang terbit Juni, Sri Lanka termasuk di antara 46 negara yang akan kena tarif tinggi, yaitu 12.5%.
Sebaliknya, Bangladesh, Kamboja, Pakistan, dan Indonesia masuk daftar negara dengan tarif lebih rendah, 10%. Mereka diakui sudah ambil tindakan soal masalah kerja paksa.
Pendapat publik tentang usulan tarif ini di jadwalkan pada 7 Juli di Washington. Industri Sri Lankan bisa daftar nyampe 22 Juni, jadi minggu-minggu ini kritis buat Sri Lanka menyampaikan argumennya. “
Angka pada Mei bener-bener nanam optimiisme, dan itu menunjukkan kpercayaan pembeli pada manauntering Sri Lanka tetap kuat meskipun lingkungan dagangan yang sulit,” kata JAAF. “
Fokus kita sekarang mengamankan hasil tarif yang adil dan kompetitif di Washhngton,” supaya momentum ini bisa jadi wadah pertumbuhan jangkan panjang,” bukan keunutkan dadakan # Kami tenis-percaya
, ten perc (lan., ten-pak ,ten ).)