Harga yang turun sering banget bikin niat baik kita luntur. Rencananya sih mau pegang lama, sampai angka di layar jadi merah dan perut lebih mengatur dari otak.
Kebanyakan investor jual di harga hampir terendah dengan alasan yang sama waktu mereka beli di puncak. Mereka biarin harga yang kasih perintah, bukan alasan mereka beli waktu pertama kali.
Sepanjang tahun ini, emas dan perak lagi menguji insting itu. Setelah kenaikan bersejarah yang mendorong emas ke $5.000 per ons dan perak di atas $100 pada Januari, kedua logam ini sudah berbulan-bulan merosot.
Dolar yang makin kuat, Federal Reserve yang terus ngasih kode bakal naikin suku bunga, dan gencatan senjata yang goyah di Timur Tengah udah bikin perdagangan safe-haven jadi berkurang. Pegang uang tunai rasanya makin pintar setiap minggu, meskipun inflasi perlahan menggerus apa yang bisa dibeli dengan uang itu.
Pos-posisi seperti inilah yang bikin Robert Kiyosaki, penulis buku terkenal Rich Dad Poor Dad, mengaku bisa berpikir paling jernih. Saat emas dan perak turun lagi minggu lalu, si pencinta logam ini bilang ke jutaan pengikutnya bahwa dia tidak akan jual. Dia cuma nunggu. Dan katanya udah tau apa yang dia tunggu.
Robert Kiyosaki bilang dia tidak akan menyentuh logamnya, dan baru akan beli kalo grafiknya udah berubah. (Foto: Getty Images)
Gimana emas dan perak kehilangan kilaunya di 2026
Angka-angka di balik penurunan ini jelek kalo kamu beli di harga puncak.
Emas turun ke sekitar $4.152 per ons pada 19 Juni, penurunan mingguan ketiga berturut-turut, menurut Trading Economics. Hari yang sama, perak jatuh di bawah $65, level terendah sejak 11 Juni.
Kedua logam ini baru aja selesei dari kenaikan yang cuma terjadi sekali dalam satu generasi. Emas naik lebih dari 50% di 2025 dan perak naik dua kali lipat, karena bank sentral banyak menimbun dan dolar yang lemah bikin investor cari tempat aman.
Terus ceritanya berbalik. The Fed, sekarang dipimpin Ketua Kevin Warsh, biarin suku bunga tetap pada 17 Juni tapi ngasih siny akan naik, dan dolar langsung loncat ke level tertinggi dalam setaun, lapor Trading Economics. Suku bunga naik dan dolar kuat itu racun buat logam yang tidak kasih bunga.
Logam-logam ini juga sekarang diperdagangkan lebih seperti aset berisiko, bukan lindung nilai panik lagi. Kalo dulu jadi “tempat aman” pas terjadi perang, sekarang malah punya hubungan korelasi negatif kuat dengan minyak perang sama Iran berlarut-larut.
Pas aku lihat pergerakan harga tahun ini dibanding puncak Januari, skala balikannya cukup mengejut. Ini posisinya sekarang:
Emas mencetak rekornys di dekat $5.595 per ons pada 29 Januari sebelum balik arah
Emas diperdagangin sekitar $4.152 pada 19 Juni, kira-kira 25% di bawah puncak itu
Perak ada di dekat $64, turun sekitar 47% dari puncak Januari sebesar $121.62
Wall Street belum menyerah. J.P. Morgan tetap perkirakan emas bakal rata-rata $6.000 per ons di akhir tahun, walau analisnya sendiri bilang logam ini macet di “lahan tak berpenghuni” soal tekniknya. Goldman Sachs dibanding target akhir tahun die revisi turun jadi $4.900 tadinya dari $5.400. Artinya: gak ada yang buru-buru ngejar ini.
Apa yang diliht Robert Kiyosakin sebelum beli
Argumen Kiyosaki itu bahwa harga sebenarnya jadi sumber gangguann. Yang pemting diliat, katanya, adalah sekitar aset itu sekitar.
Contohnya di properti di, katanya bisa ngecek ada sampai mauan dari goernur sampin lingkungan bukan cuman daftarn hal rumh d semena mengikuti daft pad kelas pad seterus kemann uang main sa juga takupih untn tepat seduui ecer jual tan”.`.
‘&: ”
Kiyosaki terus nanti bar bgmem simagn enuunj diam in gold atu! bakal ban termiat jual dengan lapiasmuwa kawn situ yyn dib