Perang Iran dan lonjakan AI guncang pasar global.

Oleh Marc Jones

LONDON, 30 Juni (Reuters) – Tahun ini investor seperti harus minum obat mabuk perjalanan. Penyebabnya adalah perang dengan Iran yang kacau, bersaing dengan ledakan besar teknologi AI yang seolah tak terbendung.

Saat ini, pasar saham global naik 7 triliun dolar lebih tinggi dibanding akhir 2025. Padahal perang sempat membuat pasar jatuh 9 triliun dolar pada Maret, ketika minyak naik ke 120 dolar per barel dan harapan suku bunga rendah mulai hilang.

Saham Korea Selatan melonjak 100%, SpaceX milik Elon Musk yang bernilai 2 triliun dolar juga melesat. Namun, kelompok saham teknologi “Magnificent Seven” justru turun, dan emas tiba-tiba kehilangan kilaunya.

Penasihat ekonomi utama di Equity Bank, Charlie Robertson, berkata ini luar biasa. Bukan karena apa yang terjadi, tapi karena apa yang tidak terjadi.

“Kita sudah mengalami guncangan geopolitik terbesar yang bisa dibayangkan, tapi itu belum merusak pasar global,” katanya.

Indeks MSCI All-Country World naik hampir 10% pada paruh pertama tahun ini, setara tambahan 7 triliun dolar. Kuartal kedua 2026 adalah yang terbaik sejak 2020, tapi masih kalah oleh rekor Korea Selatan.

Di pasar mata uang, masalah terbesar adalah yen Jepang. Nilai yen ada di titik rendah 40 tahun, meskipun Tokyo sudah menghabiskan 11,7 triliun yen (72,25 miliar dolar) untuk menopangnya. Indeks Nikkei sendiri naik hampir 40%.

Kepala strategi makro global State Street, Michael Metcalfe, mengatakan nasib yen sekarang menjadi titik risiko global.

“Semua tergantung apa yang terjadi pada permintaan obligasi Jepang, jika ada krisis di yen,” katanya. Ia khawatir suku bunga Jepang yang lebih tinggi akan menarik dana kembali ke Jepang dan memicu aksi jual di tempat lain.

MEMBACA  Laptop berkelanjutan untuk bermain game, belajar, dan bekerja

Dolar AS naik 3%, yang menurut Metcalfe menunjukkan omongan soal dolar yang akan melemah ternyata premature. Tapi analis BofA bilang, untuk sekarang lebih baik “menyewa dolar, bukan memilikinya.”

PERJALANAN LIAR DARI AWAL TAHUN

Tahun ini benar-benar liar. AS berhasil menangkap presiden Venezuela, Donald Trump minta mengambil alih Greenland, dan semerta-merta mengeluarkan ancaman tarif ke semua pihak.

Pada Januari, harga emas naik paling besar dalam sebulan sejak krisis keuangan global. Tapi belakangan harganya mulai turun lagi. Spot emas turun lebih dari 12% di Juni ini, yang akan jadi bulan terburuk sejak Oktober 2008. Ini juga kuartal terburuknya sejak 2013, meskipun sebelumnya harga emas sudah naik dua kali lipat sejak awal tahun lalu.

Obligasi Venezuela, yang sudah tak dibayar selama sembilan tahun, naik 55% setelah AS menangkap presidennya, Nicolas Maduro. Ini jadi obligasi paling bonanza di dunia.

Pasar obligasi lain bergerak lebih kecil. Imbal hasil (yield) obligasi AS dan Inggris 10 tahun naik sekitar 24 basis poin. Jerman flat dan Jepang naik sekitar 50 basis poin.

Meski demikian tetap ada volatilitas. Biaya pinjaman Inggris sempat mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Yield AS 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, dan yield Jepang 10 tahun menyentuh rekor puncak.

"NUANSA RISIKO"

Sebagian besar kenaikan saham di kuartal kedua berasal dari saham AI yang sendiri lagi naik gila-gilaan, terutama di Asia. Saham S&P 500 sudah naik 14% dan Nasdaq naik 20% setelah SpaceX masuk ke indeksnya.

Ada beberapa pengecualian. “Magnificent Seven” semuanya berkinerja lebih rendah dibanding Indeks MSCI. Bank for International Settlements baru saja memperingatkan bahwa jika hasil AI mengecewakan, bisa sebabkan kekacauan pasar global.

MEMBACA  Dokumenter HBO menyatakan bahwa Peter Todd menciptakan Bitcoin

Paruh kedua tahun ini kemungkinan makin ramai. Inggris menunggu perdana menteri baru, yen masih lemah, kepala Federal Reserve yang baru (Kevin Warsh) bernada hawkish, dan Trump makin gencar menghadapi pemilu paruh waktu AS November.

Robertson dari Equity Bank khawatir IPO yang berhamburan bisa tandai “puncak AI” pada akhir tahun ini. Sementara direktur pasar modal Standard Chartered, Patrick Dupont-Liot, melihat adanya “nuansa risiko” semerbak.

“Tidak ada yang punya bola kristal,” kata Dupont-Liot, “tapi kami tahu Trump tidak pernah bosan mengejutkan sejak ia menjabat.”

Tinggalkan komentar