Satu lagi merek retail terkenal bakal menghilang dari jalan-jalan utama karena tekanan keuangan dan persaingan yang makin ketat terus mengubah industri retail.
Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan ini udah membangun reputasi sebagai tempat belanja desainer diskon dan fashion bermerek. Meskipun punya nama terkenal, pelanggan setia, dan model bisnis yang fokus pada nilai, retailer ini nggak bisa mengatasi tantangan yang dihadapi banyak toko pakaian tradisional.
Kehancurannya menyoroti tekanan besar yang dihadapi toko fisik seiring pertumbuhan e-commerce, biaya operasional yang naik, dan ekspektasi konsumen yang berubah. Konsumen sekarang lebih mengutamakan kenyamanan, harga murah, dan pengiriman cepat, memaksa banyak merek lama untuk mikir ulang model bisnis mereka.
Didirikan pada 1993, Leading Labels adalah retailer fashion multi-merek dan jaringan outlet di Inggris dan Irlandia, yang jual pakaian pria dan wanita diskon. Setelah bertahun-tahun tekanan keuangan, perusahaan ini konfirmasi semua toko yang tersisa bakal tutup.
Leading Labels masuk likuidasi di tengah penutupan toko
Leading Labels menutup 15 tokonya setelah masuk likuidasi. Penjualan clearance udah dimulai di semua lokasi. Perusahaan menunjuk Jeremy Bleazard sebagai likuidator pada 26 Mei. Ini terjadi setelah pemberitahuan awal yang nyebutin perusahaan bisa dihapus dalam dua bulan sejak 10 Maret.
Riwayat pendaftaran di Companies House nunjukin perusahaan gagal kirim laporan keuangan yang jatuh tempo pada November 2025, sebuah tanda administrasi dan tekanan keuangan mungkin udah terjadi sebelum retailer likuidasi.
Daftar lengkap toko Leading Labels yang tutup
Leading Labels punya 15 toko saat ini, semuanya diprediksi bakal tutup. Sales likuidasi mulai hari ini.
Leading Labels hadapi tantangan yang sama seperti retailer pakaian lainnya: belanja konsumen melemah, biaya operasi naik, dan kebiasaan belanja berubah. Diskon fashion dulu jadi pilihan, tapi saingan kayak Shein dan Temu sekarang nggak bisa dilawan dengan harga lebih murah, pilihan lebih banyak, dan pengiriman super cepat.
Model bisnis offline Leading Labels mulai ditinggal karena toko ini udah ketinggalan zaman. Global e-commerce makin besar: nilainya USD $33,91 triliun tahun ini, dan diperkirakan naik 21,6% per tahun.
Penutupan toko terus terjadi
Leading Labels bukan satu-satunya. Banyak fashion retailer lain udah ngumumin penutupan total selama bulan kemarin. Manajemen gagal melanjutkan mesipun reputasi nilai discount masih terlihat tidak bagus sama ahlin ekonomi.
Fashion retailer Quiz juga tutup 37 toko standalone sampai Juni 3026.
McKinsey’s State of Fashion 2020 report(aduh 2026 maap) bilang tren penurunan akan berlanjut secepat toko fisik makin banyak di l pindai ekspansi pemerintah keluar pada triwulan depan. Namun barang reduc post terbit sebagai The Strewet
Related: Retail chane anoter aling menjamu dutu