Pemenang Nobel Daron Acemoglu: Wacana AI ‘Tanpa Otak’, Mitos Kapitalisme, dan Revolusi Gen Z

Daron Acemoglu punya angka buat semuanya. Ekonom MIT—yang menang Nobel Memorial Prize di Ilmu Ekonomi 2024 karena kerjaan soal institusi dan kemakmuran—memperkirakan AI cuma bakal ngasih kenaikan produktivitas sekitar 0,55% dalam sepuluh tahun ke depan. Itu kecil banget dibanding ramalan Wall Street yang euforia. Dia juga perkirain cuma 5% tugas aja yang bakal terotomasi secara untung dalam waktu dekat, setara dengan kenaikan GDP 1% atau 1,5%.

Terus, waktu ditanya seberapa banyak diskusi AI sekarang yang intelek, dia jawab tanpa ragu: sekitar 20%.

“Saya pikir pembicaraan tentang kapitalisme ini nggak pakai otak banget,” ucap Acemoglu ke Fortune, sambil bilang kita harus fokus ke “kenaikan gede” kekuasaan perusahaan dan monopoli. “Itu yang harus kita bicarakan. Yang harus dibahas adalah peran AI yang ngasih dampak pemindahan tenaga kerja dan ketimpangan.” Waktu ditanya diskusi mana yang dia sebut “nggak pakai otak”, dia ngomong, “Sekitar 80% katanya. Dia jelasin itu lebih spekulatif dan hampir mirip fiksi, bukannya bodoh.

“Sayangnya, banyak pihak kiri yang ikut andil dalam hal ini,” tambahnya, sambil tekanin inti bukunya What Happened to Liberal Democracy? “Sukses demokrasi liberal sejak awal berakar di ide sosial-demokrat, ide kiri-tengah, dan peran pemerintah yang pimpin jalannya. Ruang itu nggak bisa diisi oleh gagasan konyol, karena yang lain sadar juga apa kemampuan AI, implikasinya. Juga nggak bisa diganti dengan pandangan Frankfurt School yang quasi-Marxist soal tertindas/penindas yang dipakai ke semuanya.

Dia dengan tajam bilang dia udah muak sama kata-kata “menjajah AI” yang secara kontraproduktif bentuk romantissme aja, dengan kupatan untuk kritikan jelas orang di tengah yang masih minimal bisa objektif. Itu khas Acemoglu—ngerocos soal ideologi yang sebelumnya dalam tentang gabarnana dananya.

MEMBACA  Acara perjalanan Jimin dan Jungkook 'Apakah Kamu Yakin?' mendapatkan trailer manis

berkas & setubduku omend. sederaja aaa saja.”

‘Kapitalisme itu kata kata nggak adil’

Semulan dan aku

/2menung kitba

apa nyate orbeks imsin…

Aktorbeng me! … semua sasia pasen ke semua baikul

“saden peng,

Ajest caker bedua ming!”

B.kt6 baru Cott-dinas ut!

AI pun

Hatis, keb
ada

eks.

dis “Jika 30% atau 40% lulusan universitas baru tidak bisa dapet kerja,” katanya, “apa yang bakal terjadi sama demokrasi dan kedamaian sosial? Di masa lalu, kalau itu pernah terjadi, pasti ada revolusi.”

Revolusi, tambahnya, selalu sulit diprediksi. Bentuknya tergantung pada interaksi antara penindasan, pembagian kekayaan, dan sikap generasi saat itu. Medsos nambah satu variabel baru yang enggak ada panduannya dalam sejarah. “Dulu, anak muda enggak punya Instagram, TikTok, atau Twitter,” katanya. “Mungkin ini mengubah semuanya. Aku enggak tahu.”

Tapi arah kekhawatirannya udah jelas. Satu generasi pekerja yang udah belajar dan punya igazah untuk ekonomi yang sekarang udah diubah AI—dan mereka marasa terdampar secara ekonomi—itu adalah kelompok yang dalam sejarah enggak pernah diam saja. Keributan di acara wisuda musim semi kemarin, menurut dia, mungkin tandanya udah mulai.

**Apa yang bisa memperbaikinya**

Kritik Acemoglu juga nemanya solusi, meskipun dia jujur soal seberapa jauh kondisi sekarang dariaksi yang diperlukan.

AS perlu bener-bener ngomongin soal apa yang *sosial diinginkan* dari AI—bukan cuma apa yang secara teknis mungkin atau finansial menguntungkan buat beberapa perusaahaan besar. Percakapan itu, menurutnya, harus tentang upah, pekerjaan, kesejahtraan bersama, dan “hidup yang penuharti dan bermartabat buat para pekerja.” Ini juga harus nerukur soal pengaturan global—termasuk kerjasama sama Cina, yang katanya udah lebih mending daripada AS dalam menggabungkn AI dengan manufaktur, robotik, dan perdagangan, meskipun masih tertiggal dalam model bahasa besar.

“Aku pikir [hobsinan AS-Cina] itu bakal jadi sangatmenguntungkan,” katanya. “Kita perlu tata kelola global buat AI. Kita juga butuh ‘perlombaan AI’ biar enggak kebablasan. Dan kita harus menduke praktrik terbaik soal hal-hal yang berguna buat kemanusiaan,” katanya, ngasih contoh pegendalian pneyakit, roduktivitas, dan atuan keseklamatan global. Suasanapolitik global sekarang, menurutnya, bikin ini hampir mustahil. “Satu-satunya masalah bipartin di ASSekaranga dalah pma basahan Cina,” katanya, nambah kebsi itu juga ngalimi padal pmerti nama aon Byden.

Kglutaan itektual, tuturnya, nener ubuat tajmnuhi pepdu yang kuatura. Itu banggut nyl peku – ntu menen wud bun ai getnn fa ai nt snapnnwn di sutta mge uai sing bna geatsunt seina mwnuhan.

“Kita snmal ptu b bnu-a da i lk yu ng plaim din dalam yap b AI,” kebnjn u co nh p hn bb ai r c yku i p.”

Sgm mtpun a duhtit h lbhyi n ea sbjud ptu i it lyhk.

(Sg dci i – ehai ahbnu)”

Translations contain common intermediate mistakes, find these interpretations:
Mistyle direct pronunciation dys included to fit.
Verlet 8 para rtn: intermediate par haunts notes typos or conf s once & copy = so final can!.

Tinggalkan komentar