Selama ini, Generasi Z sering disalahkan karena dianggap punya sikap buruk, etos kerja rendah, dan terlalu banyak permintaan. Tapi data pasar tenaga kerja menunjukkan cerita yang berbeda. Lapangan kerja tingkat pemula untuk pekerja termuda di Amerika sedang bermasalah — dan data memperlihatkan ini bukan karena karakter generasi yang buruk. Ini adalah masalah struktural.
Indikator utama menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat. Namun di balik itu, ada kelemahan yang terus berlanjut. Pasar kerja saat ini dimana perusahaan segan mempekerjakan dan juga segan memecat, membuat perusahaan enggan melakukan perubahan. Bagi pekerja paruh baya, kondisi ini nyaman. Tapi bagi anak muda yang mencari pekerjaan pertama, ini adalah jalan buntu.
Pada tahun 2025, persentase pengangguran di Amerika yang merupakan pendatang baru di dunia kerja mencapai angka tertinggi dalam 37 tahun. Angka itu bahkan lebih tinggi daripada masa Resesi Besar dulu. Saat perekrutan melambat, lulusan baru dan pencari kerja pemutalah yang pertama terdampak.
Pekerjaan yang Seharusnya Untuk Mereka Telah Menghilang
Keuntungan di pasar kerja saat ini terisolasi dan tidak merata, banyak melewatkan pekerja muda. Pertumbuhan lapangan kerja cuma terpusat di bidang kesehatan dan layanan sosial. Sementara itu, sektor keuangan dan jasa informasi — yang dulu banyak menyerap lulusan universitas — justru kehilangan banyak pekerjaan. Pekerja muda terus memantau lowongan namun hanya menemukan kesempatan yang makin sedikit. Banyak pekerja baru datang ke pasar tenaga kerja tepat saat perusahaan menutup pintunya.
Gen Z tidak kurang usaha. Saat generasi ini berusaha masuk ke pasar kerja tradisional, banyak yang beralih ke pekerjaan sampingan. Lebih dari setengah — 57% — Gen Z sekarang mengerjakan pekerjaan tambahan seperti membuat konten, berjualan, atau kerja di ekonomi gig. Hanya 21% Baby Boomers yang melakukan ini. Memang ada jiwa wirausaha di tren ini, tapi ini juga tanda peringatan. Banyak pekerja sekarang menggabungkan beberapa pekerjaan paruh waktu untuk bertahan hidup. Dalam konteks ini, tren side-hustle mencerminkan generasi yang menyambung-nyambung pendapatan di pasar yang kurang stabil dan sulit untuk maju.
Gelar Sarjana Tidak Lagi Menjamin Seperti Dulu
Apa yang dulu dialami oleh lulusan kuliah kulit hitam satu dekade lalu — bahwa melakukan segalanya dengan "benar" tak menjamin kerja stabil — sekarang telah menyebar ke seluruh pasar tenaga kerja.
Gelar sarjana tak lagi menjamin pekerjaan atau gaji yang lebih baik. Sejak Resesi Besar, kesenjangan tingkat pengangguran antara sarjana dan non-sarjana semakin mengecil. Kini, lulusan baru justru lebih mungkin menganggur daripada angkatan kerja secara keseluruhan.
Yang paling mengejutkan: selama enam bulan di 2025, pekerja dengan gelar associate di bidang keterampilan seperti tukang ledeng atau listrik, punya hasil kerja yang sedikit lebih baik daripada sarjana. Ini pertama kalinya lulusan universitas kehilangan keunggulan kerja sejak pemerintah mulai mencatat data ini tahun 1990-an.
AI Mengancam untuk Mengunci Pintu dari Dalam
Saat pintu pasar kerja tertutup untuk anak muda, Kecerdasan Buatan (AI) mengancam untuk mengunci dari dalam. Pengangguran massal akibat AI belum terjadi — tapi tanda peringatan awal sudah muncul untuk pekerja di awal karier. Penelitian terbaru Universitas Stanford menemukan pekerja umur 22-25 tahun di bidang yang terpapar AI — seperti pengembangan perangkat lunak dan layanan pelanggan — mengalami penurunan kerja 13% sejak 2022.
Bahkan pemimpin teknologi memberi peringatan. CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan AI bisa menghapus sekitar setengah dari pekerjaan tingkat pemula di bidang kerah putih dalam lima tahun ke depan. Pekerja muda tanpa pengalaman menghadapi risiko besar terluka oleh pasar kerja — memasuki dunia kerja yang menyempit di tingkat pemula dan mengotomatisasi peran yang tersisa.
Ketidakpastian ini membebani pekerja muda. The Conference Board menemukan hanya 57% pekerja di bawah 25 tahun yang puas dengan pekerjaannya, dibandingkan 72% pekerja di atas 55 tahun. Di tahun dengan kenaikan kepuasan kerja tercepat yang pernah tercatat, pekerja muda adalah satu-satunya kelompok yang kepuasannya menurun.
Apa yang Sebenarnya Perlu Berubah
Menyalahkan Gen Z itu mudah. Data menunjukkan itu juga salah. Generasi ini tumbuh di pasar tenaga kerja yang kurang aman, kurang dinamis, dan kurang terprediksi dibandingkan yang dihadapi orang tua mereka — tempat kerja yang makin memakai teknologi pengawasan dan tunjangan pensiun yang tergerus. Yang dibutuhkan bukanlah ceramah tentang etos kerja. Kita memerlukan ekonomi yang menawarkan banyak jalan yang kuat menuju keamanan kelas menengah.
Kita bisa menghidupkan kembali janji gelar sarjana sambil berinvestasi dalam magang, program pelayanan publik, dan jalan lain yang terbukti menuju kerja stabil. Dan saat AI membentuk ulang tenaga kerja, pembuat kebijakan harus memastikan pekerja punya suara dalam penerapannya — dan manfaat yang diciptakan dibagi secara luas, bukan dikumpulkan oleh segelintir orang.
Gen Z bukan tidak bisa dipekerjakan. Mereka sedang mengetuk pintu yang terkunci. Tugas kita adalah membukanya kembali — dan memastikan kesempatan untuk mencapai kelas menengah tidak menjadi peninggalan masa lalu.
Pendapat dalam artikel komentar Fortune.com adalah pandangan penulisnya dan tidak selalu mencerminkan pendapat dan keyakinan Fortune. Ini adalah tentang sebuah kota yang sangat tua di Eropa. Kota ini sangat indah dan memiliki banyak bangunan bersejarah. Banyak turis datang kesini setiap tahun untuk melihat keindahannya. Mereka suka berjalan-jalan di jalanan kecil dan mencoba makanan lokal. Sangat menyenangkan untuk berkunjung ke tempat ini!