MIT Uji Coba AI pada Ribuan Tugas Kerja. Hasilnya? Hanya Sekadarnya.

Banyak pekerja kantor di Amerika yang sudah mencoba pakai AI di pekerjaan mereka mungkin pernah merasa khawatir tentang masa depan kerja mereka.

Tapi, menurut data terbaru dari MIT, meski AI sudah lebih baik beberapa tahun ini, teknologinya masih hanya bisa mengerjakan tugas-tugas yang mudah ditempat kerja. Bahkan kadang, AI masih bisa buat kesalahan besar.

Penelitian baru dari MIT ini mungkin bisa bikin para pekerja lebih tenang. Laporan itu bilang bahwa pengambilalihan pekerjaan oleh AI tidak terjadi cepat seperti film aksi, tapi lebih lambat seperti film yang serius.

AI memang makin baik dalam mengerjakan berbagai tugas di banyak profesi, menurut studi yang dirilis Kamis lalu. Tapi, seringnya performa AI sekarang mirip kayak anak magang yang kurang semangat—hanya memenuhi syarat minimal dan sulit hasilkan kerja yang bagus tanpa bantuan manusia untuk memperbaikinya.

Melewati Batas Minimal

Peneliti MIT pakai 41 model AI berbeda—termasuk Claude, Gemini, dan ChatGPT—untuk analisa lebih dari 11.000 tugas berbasis teks untuk berbagai jenis pekerjaan. Hasilnya lalu dinilai oleh manusia yang berpengalaman di bidangnya. Tujuannya untuk lihat seberapa sering AI bisa hasilkan kerja yang langsung diterima manajer tanpa perlu diedit.

Mereka temukan bahwa AI memang makin bisa diandalkan untuk banyak jenis kerja, tetapi tetap gagal saat standarnya dinaikkan. Penelitian MIT pakai skor 1–9, di mana angka 7 berarti “cukup minimal”—kerjaannya bisa dipakai tanpa edit. Menjelang akhir 2025, AI bisa raih skor 7 untuk sekitar 65% tugas.

Yang penting untuk perusahaan yang mau ganti pekerja dengan AI: data MIT menunjukkan AI kesulitan dengan tugas yang lebih rumit. Berapapun waktu yang diberikan, peluang AI dapat skor 9 atau “sangat baik” tidak pernah lebih dari 50%. Jadi, kalau pekerjaan butuh banyak langkah, kreativitas, atau ketepatan, AI lebih mungkin gagal daripada berhasil.

MEMBACA  Dampak Penutupan Pemerintah pada Pasar Perumahan

Hasil ini cocok dengan apa yang terjadi di perusahaan-perusahaan Amerika. Perusahaan yang pakai AI cenderung otomatisasi tugas rutin yang biasanya untuk pekerja pemula. Sementara itu, keahlian teknis yang tinggi malah bisa bikin gaji lebih besar.

Data MIT juga menunjukkan tingkat keberhasilan AI lebih rendah untuk pekerjaan ahli di bidang hukum dan IT. Sebaliknya, AI lebih mudah mengatasi tugas berbasis teks untuk pekerjaan konstruksi dan perawatan.

Perusahaan yang coba otomatisasi penuh bagian tertentu sudah alami masalah. Tahun lalu, Deloitte harus buat dua laporan untuk pemerintah Australia dan Kanada yang ternyata berisi banyak kebohongan. Media seperti CNET dan Sports Illustrated juga ketahuan pakai AI untuk bikin cerita yang tidak akurat. Bahkan pengacara pakai AI untuk persiapan berkas, sampai satu firma hukum minta maaf publik tahun lalu karena kasus kebangkrutan mereka pakai kutipan palsu dari AI.

Bukti-bukti ini dan data MIT menunjukkan AI masih butuh tangan manusia untuk hasil terbaik, walaupun teknologinya berkembang cepat. Peneliti MIT perkirakan tingkat keberhasilan AI naik sampai 11 persen setiap tahunnya berkat model yang makin canggih.

Mereka perkirakan pada tahun 2029, kebanyakan model AI akan bisa selesaikan 80% sampai 95% tugas berbasis teks pada tingkat “cukup minimal”.

Tapi, apakah AI nanti bisa capai kinerja yang sangat baik atau sempurna? Itu masih belum diketahui.

“Otomatisasi yang luas, terutama di bidang yang tidak boleh ada kesalahan, mungkin masih lama lagi,” tulis para peneliti.

AI mungkin bisa kerjakan tugas-tugas dasar seperti nulis draf, email, dan hitung angka, tapi belum bisa masuk ke wilayah kinerja superior di mana manusia masih lebih unggul.

MEMBACA  Program Desa Nelayan Indonesia Ciptakan 17.550 Lapangan Kerja di Pesisir

Tinggalkan komentar