Mengapa Sering Berganti Pekerjaan dan Keahlian Generalis Kini Jadi Jalan Tercepat Menuju Posisi CEO

Dua tahun lalu, Elliot Hill keluar dari masa pensiunya untuk jadi bos baru di Nike, dan profil LinkedIn-nya jadi viral. Dia habiskan seluruh karir di perusahaan pakaian olahraga itu, mulai dari intern di tahun 80-an sampai naik ke posisi paling tinggi. Banyak orang terkejut lihat CV dia, yang menunjukan betapa langkanya sekarang orang kerja di satu perusahaan seumur hidup. Buat banyak calon CEO, kesetiaan pada satu perusahaan malah bisa jadi masalah sekarang.

Profil CEO tipikal udah berubah akhir-akhir ini. Jumlah eksekutif yang memimpin perusahaan, seperti wanita atau orang kulit berwarna, mulai meningkat—walau pelan-pelan. CEO juga makin tua, termasuk yang baru diangkat. Rata-rata umur CEO tahun 2023 adalah 55 tahun, naik dari 47 tahun di tahun 2000, menurut penelitian dari National Bureau of Economic Research yang terbit bulan April.

Peneliti lihat lebih dari 50.000 CEO Amerika dan kasih beberapa alasan kenapa CEO baru cenderung lebih tua. Salah satunya, perusahaan makin hati-hati sama resiko. Mereka lebih pilih CEO yang lebih berpengalaman dan stabil daripada CEO muda yang lebih dinamis.

Tapi dalam dunia bisnis Amerika, dewan direksi sekarang lebih suka kandidat yang pernah kerja di berbagai perusahaan dan sektor, bahkan yang gak ada hubungannya. Buat karyawan yang setia dan pengin naik jabatan, kenyataan ini berarti kesetiaan mereka mungkin gak dihargai.

Peneliti juga nemu bahwa, dibanding tahun 2000, orang yang jadi CEO sekarang habiskan sekitar 10 tahun lebih lama bekerja di luar perusahaan yang nantinya mereka pimpin. Sementara itu, lama kerja di perusahaan sebelum jadi CEO masih sama kayak beberapa dekade lalu.

Mereka bilang, pola ini menunjukan bahwa calon CEO pindah dari satu posisi, perusahaan, atau sektor ke yang lain untuk dapet skill yang lebih luas. Ini tanda perubahan karir yang lebih fleksibel di pasar kerja bagian ini.

MEMBACA  Senator Joe Manchin meninggalkan Partai Demokrat dan mendaftar sebagai independen

Sering Ganti Kerja Jadi Tren

Kesetiaan ke satu perusahaan mungkin gak dianggap penting lagi, tapi gonta-ganti kerja bukan hal baru. Di Amerika, lama kerja rata-rata di satu perusahaan tahun 2024 hanya 3.9 tahun, terendah sejak 2002. Ini mirip dengan tahun 80-an dan 90-an, bisa jugas karena pekerja yang lebih tua cenderung kerja lebih lama.

Generasi Z dan milenial terkenal suka ganti kerja, tapi sebenarnya generasi sebelumnya juga begitu di awal karir, pas pekerja muda lagi coba-coba berbagai pekerjaan. Laporan tahun lalu dari National Institute on Retirement Security nemu bahwa baby boomers rata-rata punya 12.7 pekerjaan sepanjang karir, setengahnya waktu umur 18-24 tahun.

Ini mungkin hal bagus, menurut penelitian terbaru. Peneliti catat bahwa CEO modern yang paling keren dalah yang punya pengalaman umum dari berbagai pekerjaan, bukan cuma skill kepemimpinan. Pengalaman kayak gitu susah dapet kalau cuma di satu perusahaan atau industri.

Hubungan Timbal Balik yang Hilang

Dewan direksi yang suka pengalaman beragam sesuai banget sama budaya perusahaan Amerika sekarang. Walaupun sering ganti kerja udah biasa dari dulu, yang berubah adalah cara perusahaan lihat kesetiaan.

Zaman dulu, perusahaan hargai banget kesetiaan—dilihat dari retensi, absensi, dan semangat kerja—dan akhirnya karyawan setia dikasih keamanan kerja, naik gaji, dan bonus lainnya. Tapi kontrak gak tertulis ini mulai pudar akhir-akhir in. Peneliti dari Stanford bilang, perusahaan kini lebih hitungan dan fokus ke masa depan, jadi mereka kurang suka hadiahi kerja keras dan kesetiaan kalau gak masuk rencana pertumbuhan.

Karyawan juga sekarang lebih setia ke karir mereka sendiri daripada ke satu perusahaan. Ini juga karena PHK makin sering dibanding 50 tahun lalu, dan hadiah buat kesetiaan kaya dana pensiun dari perusahaan makin jarang. Malah, skema pensiuin sekarang mayoritas udah diganti 401(k).

MEMBACA  Apakah aman bagi warga Palestina di Gaza untuk kembali dan membangun kembali rumah mereka? | Perang Israel di Gaza

Hubungan timbal balik yang ilang ini punya dampak buronya. Keamanan kerja jadi turun, dan situasi baru ini bisa bikin turunnya kepuasan kerja dan masalah kesehatan, karena sebagian besar asuransi kesehatan orang Amerika bawaan dari pekerjaan mereka.

Tapi bagi yang berhasil sering ganti kerja, penelitian nunjukin ini bisa kasih lebih banyak keuntumgan di masa depan, yang ningkatin skill, jejaring profesional, dan kemampuan adaptasi. Ini bisa buka lebih banyak peluang kerja dan pada akhirnya peluang lebih besar untuk jadi bos besar suatu hari nanti.

Tinggalkan komentar