Maskapai Teluk Kembali Berbisnis, Penerbangan Hampir Selevel Sebelum Perang

Oleh Alessandro Parodi dan Adam Jourdan

LONDON, 19 Juni (Reuters) – Bilang pelan-pelan, tapi maskapai Teluk sudah mulai bisnis lagi.

Timur Tengah punya beberapa maskapai terbesar di dunia, yang jalurnya kacau karena konflik Iran, dengan serangan rudal dan drone Iran kadang tutup bandara beberapa bulan terakhir dan merubah rute penerbangan di sekitar Teluk.

Data Flightradar24.com tunjukan jumlah penerbangan maskapai besar Teluk sekarang sudah kembali ke sekitar 82% dari level pada 27 Februari, sehari sebelum perang mulai. Gulf Air dan Kuwait Airways sudah melebihi 100% level itu dalam beberapa hari terakhir.

Emirates, Qatar Airways dan Etihad – tiga yang terbesar – sudah di atas atau dekat 90% dari level sebelum perang. Etihad dan Qatar Airways cuma di 40-50% sebulan lalu. Emirates, yang habis banyak uang untuk jaga penerbangan tetap jalan, sudah lebih tinggi lebih lama.

Setelah AS dan Iran tandatangan perjanjian sementara pada Rabu untuk akhiri konflik hampir empat bulan, dan diharapkan bahas implementasi gencatan senjata pada Jumat, prospek maskapai Teluk mungkin keliatan lebih cerah.

Akhir dari permusuhan akan buka lagi wilayah udara regional sehingga maskapai bisa melanjutkan operasi mereka penuh, kata James Halstead, mitra pengelola di Aviation Strategy.

“Kalau kembali normal, saya lihat mereka bertindak normal, balik dengan kekuatan penuh,” kata Halstead.

KEKHATIRAN KEAMANAN

Serangan drone selama konflik Iran sering paksa penerbangan ke Teluk untuk alihkan rute, timbulkan kekhatiran keselamatan untuk penumpang dan kru dan batasi rute ke beberapa koridor penerbangan yang aman.

Maskapai Eropa dan Asia sudah setop penerbangan ke wilayah itu, dengan banyak peringatan masih berlaku. Australia minggu ini melonggarkan saran perjalanan untuk beberapa negara Timur Tengah, dorongan buat pusat transit.

MEMBACA  Mantan Pemain Bandung FC Hampir Bunuh Diri, 8 Klub Internasional Dimiliki Pengusaha Indonesia

Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) tetep peringatan mereka buat terbang ke wilayah itu karena resiko terkait konflik.

EASA bilang sama Reuters akan pertimbangkan perkembangan terbaru waktu nilai lagi peringatan zona konflik untuk wilayah itu, berlaku sampai 24 Juni. Tapi, mereka bilang masih “kepagian buat tentukan apakah penurunan tensi yang dilihat bakal kurangi resiko ke penerbangan sipil secara langsung”.

DAMPAKNYA SAMPAI JAUH DI LUAR TELUK

Wilayah Teluk yang kaya minyak udah usaha besar dalam beberapa tahun terakhir buat tingkatkan peran sebagai global transport hub dan destinasi wisata, dengan investasi besar di hotel, bandara dan acara. Buka langit sepenuhnya bakal dongkrak ekonomi Teluk.

CEO Emirates Tim Clark bilang ke Reuters pekan lalu kalau maskapainya akan fokus bersama untuk meyakinkan penumpang soal keselamatan dan keandalan. Maskapai berbasis di Dubai itu sekarang ada di 86% dari volume penerbangan sebelum konflik, kata data Flightradar24.com.

Etihad nawarin pengunjung Abu Dhabi asuransi perjalan medis gratis dari Juli sampai Desember.

Volume Gulf Air dan Etihad ada di 93%, sedangkan Kuwait Airways dan Qatar WhatsApp masing-masing di 86% and 87% terus down malah tren. Volume penerbangan Air Arabia dan Flydubai] lebih rendah di 75% dan 57% dari […] paling diterjemahkan dengan tepat.

Periksa tidak memanggil waktu konflik tujuan eksekutif revisiansi apakah pernah dibongkar untuk

Tinggalkan komentar