Software kecerdasan buatan mungkin kurangin pertumbuhan lapangan kerja sebanyak 1 juta sampai 4 juta tiap tahun. Tapi dia juga bisa ciptakan lebih banyak lagi, kata ekonom dari Goldman Sachs.
Pekerjaan yang dulunya terancam oleh otomatisasi, seperti instruktur fitness dan agen properti, tetap terus tumbuh.
AI bisa bikin lapangan kerja untuk orang yang gunakan AI, dan juga naikkan permintaan untuk pekerja jasa karena pendapatan meningkat.
AI mungkin ambil pekerjaanmu, tapi akhirnya dia ciptakan lebih banyak posisi daripada yang dihilangkan.
Setidaknya, itulah yang diharapkan para ekonom Goldman Sachs. Peneliti di bank investasi itu menerbitkan laporan hari Jumat yang memprediksi AI tidak akan sebabkan “kiamat pekerjaan”. Mereka malah kasih pandangan optimis tentang efek software AI di pasar tenaga kerja, di mana teknologi mengambil alih jutaan pekerjaan, tapi jutaan lagi tercipta untuk menggantikannya, sehingga pengangguran tetap rendah.
Laporan ini seperti bantahan untuk laporan viral akhir pekan lalu dari Citrini Research, yang gambarkan skenario di mana software AI ganti begitu banyak pekerja manusia sampai ekonomi hancur. Kekhawatiran kehilangan pekerjaan karena AI berkontribusi pada naik turunnya pasar saham minggu lalu, kata analis.
Kalau ekonom Goldman Sachs benar, ketakutan bahwa AI sebabkan pengangguran massal itu berlebihan.
Goldman tidak bantah bahwa AI bisa sangat mengganggu. Teknologi ini akan gantikan sekitar 1 juta sampai lebih dari 4 juta pekerjaan per tahun di masa depan, tulis Joseph Briggs, ekonom global Goldman. Meski begitu, Goldman tidak percaya AI akan naikkan angka pengangguran secara signifikan.
“Ekonomi AS ciptakan lebih dari 30 juta pekerjaan baru kotor per tahun, dan perubahan teknologi adalah pendorong utama pertumbuhan tenaga kerja jangka panjang,” tulis Briggs. “Kami perkirakan dinamika ini akan terulang dan AI akan ciptakan pekerjaan baru sambil hancurkan yang lain. Karena itu kami tidak antisipasi kiamat pekerjaan.”
AI bisa ciptakan pekerjaan dengan tingkatkan efisiensi, buka posisi baru untuk orang yang pakai alat AI, dan ciptakan permintaan untuk pekerja jasa dengan naikkan pendapatan, tulisnya.
Briggs telusuri data ekonomi dan tidak temukan bukti bahwa AI sejauh ini sebabkan kehilangan pekerjaan besar di luar beberapa pekerjaan spesifik, seperti pengembangan software. Dia juga berargumen bahwa hanya karena AI bisa lakukan suatu pekerjaan, bukan berarti manusia tidak dibutuhkan lagi, bahkan untuk peran yang sama persis, jika melihat sejarah.
“Pekerjaan sebagai instruktur fitness (yang bisa diganti di tahun 1980-an oleh kaset fitness dan bahkan lebih lagi sekarang dengan banyaknya aplikasi fitness) dan agen properti (yang perannya sebagai perantara sudah banyak diganti platform online) tetap lebih baik daripada pertumbuhan pekerjaan keseluruhan, baik baru-baru ini maupun dalam 25 tahun terakhir,” tulisnya.