Pekerja Generasi Z dan milenial di Inggris sangat kesel karena sering di-ghosting oleh perusahaan. Bahkan, ada yang memutuskan untuk pergi dari negara itu sama sekali. Salah satu lulusan sarjana matematika bilang, dia menghabiskan lebih dari satu tahun lamar ke lebih dari 1.000 lowongan di Inggris tanpa dapat satu pun tawaran — tapi akhirnya dapat kerja di Austria dalam waktu beberapa minggu saja.
“Pasar kerja di Inggris sangat aneh,” kata Anna, pasangannya yang asal Austria, di video TikTok yang kini viral dan disukai ribuan pekerja muda yang frustasi. “Bahkan untuk orang yang berkualifikasi, sangat susah cari kerja.”
Pasangan yang punya akun TikTok @tamandanna itu jelaskan, meskipun Tam punya banyak kualifikasi, dia tetap tidak dapat panggilan dari perusahaan Inggris.
Saat dia sibuk melamar di Inggris, Anna melamar kerja di negara asalnya, Austria — dan langsung merasakan perbedaannya. “Dalam dua atau tiga minggu saya sudah dapat kerja,” ujarnya. “Di Austria, perusahaan-perusahaan benar-benar butuh staf yang berkualifikasi bagus. Sedangkan di Inggris, sangat susah cari kerja meskipun kamu sangat ahli.”
Jutaan anak Gen Z seperti dia terkunci dari dunia kerja dan disebut NEETs
Tam bukan satu-satunya. Banyak lulusan Gen Z sadar bahwa gelar mereka tidak lagi menjamin jalan langsung ke program gradute, pekerjaan bergengsi, atau sekadar masuk ke perusahaan.
Banyak perusahaan besar sudah menghapus persyaratan gelar sarjana yang dulu dipegang teguh. Sementara itu, perekrut secara global lebih cenderung cari karyawan baru berdasarkan keahlian, bukan hanya latar belakang pendidikan tinggi.
Di saat yang sama, peran tingkat pemula mulai diambil alih oleh AI. Bahkan di bidang yang kurang terdampak, perusahaan banyak yang berhenti merekrut sambil menunggu perkembangan otomatisasi dan ekonomi. Situasi ini menciptakan apa yang disebut Korn Ferry sebagai “badai sempurna” untuk pengangguran muda massal. Sekarang, hampir 20% pemuda usia 16–24 tahun di Inggris menganggur, dan sekitar 4,3 juta Gen Z di AS menghadapi nasib sama.
Tam bilang, setahun menganggur tidak hanya merusak resume-nya — tapi juga kepercayaan dirinya. Setelah berbulan-bulan mengisi formulir, ditolak, dan diabaikan, dia merasa seperti “berjalan di tempat” dan tidak bisa “melanjutkan hidupnya” saat terjebak dalam keadaan tidak menentu. “Rasanya seperti membenturkan kepala ke tembok,” tambahnya.
Satu perusahaan bahkan butuh waktu setahun penuh untuk membalas lamaran Tam, hanya untuk mengatakan dia ditolak untuk posisi yang dilamarnya.
Pasangan ini menyarankan Gen Z penganggur untuk melihat ke luar negeri dan bidang lain
Kini, sudah sembilan bulan sejak mereka pindah ke Austria untuk kerja, dan Tam bilang semua itu worth it: “Ini keputusan yang sangat bagus karena sekarang saya punya pekerjaan, mendapat penghasilan, dan kualitas hidup jadi baik.”
Sejak mereka mulai berbagi cerita, Tam bilang DM-nya kebanjiran pesan. “Banyak sekali orang yang menghubungi kami karena berada di posisi yang sama. Saya turut prihatin karena saya tahu betapa buruknya perasaan itu. Saya harap bisa bantu lebih banyak.”
Saran mereka untuk jutaan anak muda penganggur yang sepertinya tidak dapat kesempatan? Coba berpikir out of the box.
Tam mengaku dia harus melihat di luar bidang studinya untuk berhasil dapat kerja. Setelah tidak beruntung dapat pekerjaan sebagai analis data, dia memperluas pencarian dan akhirnya berhasil. “Saya pikir, apa ruginya? Tetap terbuka karena peluang itu ada, hanya saja kadang sulit dilihat.”
“Jika kamu di Inggris dan tidak bisa dapat kerja, jujur saja, tetap berpikiran terbuka,” kata Anna. “Sering kali ada peluang yang bahkan tidak pernah kamu pikirkan… Tetap positif. Pasti ada sesuatu yang cocok untukmu di luar sana.”
“Saya tidak bilang pindah ke luar negeri cocok untuk semua orang, tapi saya rasa penting diingat bahwa dunia ini lebih besar dari hanya satu pasar kerja,” ujarnya di video lainnya.