IMF memperingatkan, hutang AS yang melonjak membuat obligasi Treasury kehilangan keuntungan risikonya dibanding sekuritas lain. Ini membuat meminjam uang jadi lebih mahal.
Obligasi Treasury lama dianggap sebagai aset safe haven terbaik dunia. Tapi defisit anggaran tahunan sekarang mencapai $2 triliun, menambah cepat total utang nasional yang sudah $39 triliun. Biaya bunga saja mencapai $1 triliun per tahun.
Artinya Departemen Keuangan AS harus menerbitkan lebih banyak utang baru. Ini menguji selera investor obligasi yang sudah menunjukkan tanda-tanda permintaan yang menurun. Hasilnya, yield menjadi lebih tinggi. Perang Iran dan pengeluaran pertahanan yang lebih besar diperkirakan akan memperburuk prospek utang ini.
“Peningkatan pasokan sekuritas Treasury AS mengurangi premi keamanan yang secara tradisional dimiliki Treasury AS. Penurunan ini mendorong naik biaya pinjaman secara global,” kata IMF dalam laporan yang dikeluarkan minggu lalu.
Lembaga darurat itu menunjukan bahwa selisih (spread) antara yield obligasi korporasi peringkat AAA dan yield Treasury telah menyempit.
Bahkan, utang AS sedang bersaing dengan pasokan obligasi korporasi yang sangat besar, terutama dari perusahaan AI skala besar yang menghabiskan ratusan miliar dolar per tahun. Ini mendorong yield Treasury lebih tinggi.
IMF juga bilang bahwa “convenience yield” internasional dari Treasury — yang artinya premi keamanan dan likuiditasnya — sebenarnya baru-baru ini menjadi negatif.
“Dengan kata lain, Treasury sekarang menawarkan yield yang lebih tinggi dibandingkan setara dolar sintetis untuk obligasi pemerintah G10 yang di-hedge,” kata laporan itu.
Erosi keuntungan risiko utang AS juga bisa dilihat di area lain pasar obligasi. Saat investor mulai enggan membeli Treasury baru-baru ini, permintaan untuk utang yang diterbitkan oleh lembaga sovereign, supranasional, dan agensi (SSA) seperti Bank Dunia dan Bank Investasi Eropa justru melonjak.
Minggu lalu, lelang obligasi Bank Investasi Eropa jangka waktu tiga tahun senilai $4 miliar mendapat pesanan lebih dari $33 miliar, menurut Financial Times. Hasilnya, yield-nya adalah 3,82%, hanya 0,04 poin persen di atas Treasury yang sebanding.
Dan di pasar sekunder, spread yield obligasi dolar SSA versus Treasury juga telah turun menjadi hanya beberapa seperseratus poin persen baru-baru ini.
Di saat yang sama ketika pasokan utang AS meledak, permintaannya juga berubah. Bank sentral global tidak lagi menjadi pembeli utama, sementara hedge fund mengambil peran yang lebih besar.
Selain itu, Departemen Keuangan AS semakin bergantung pada utang jangka pendek yang perlu diperbarui lebih sering. Ini membuatnya rentan terhadap perubahan mendadak dalam kondisi pasar.
“Hedge fund memiliki 8% dari Treasury AS, rekor tertinggi. Dengan pinjaman repo dan prime brokerage gabungan melebihi $6 triliun, setiap likuidasi posisi yang terpaksa bisa menyebabkan gelombang kejut di pasar fixed income global,” kata Kepala Ekonom Apollo Torsten Slok dalam catatan hari Jumat.
Menurut pandangan IMF, AS menghadapi hitungan yang “tidak terhindarkan”. IMF mendesak Washington untuk menstabilkan trajektori utangnya dengan mengambil tindakan pada pendapatan maupun pengeluaranya, termasuk program entitlement.
Utang AS sudah 100% dari PDB dan akan mencapai lebih dari 150% pada tahun 2055 seiring melonjaknya pengeluaran untuk Social Security dan Medicare, menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO).
“Kesempatan untuk penyesuaian fiskal yang teratur semakin sempit,” kata IMF. “Ekonomi maju dengan beban utang besar perlu langkah konsolidasi yang konkret dan berurutan, bukan target jangka menengah yang hanya aspirasi.”