Minyak mentah WTI bulan Juli (CLN26) turun -4,13 (-4,87%) hari Senin, dan bensin RBOB bulan Juli (RBN26) turun -0,1026 (-3,36%).
Harga minyak dan bensin anjirok tajam hari Senin. Minyak mentah jatuh ke level terendah 2 bulan, dan bensin juga ikut turun. Penyebab utamanya, AS dan Iran setuju untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Berita lainnya dari Barchart.
Presiden Trump bilang Selat Hormuz akan dibuka lagi setelah penandatanganan perjanjian damai hari Jumat di Swiss. Ini akan memulai perundingan 60 hari tentang program nuklir Iran. Tapi kalau gak ada kesepakatan soal nuklir, AS bisa mulai serangan militer lagi.
Menurut Kpler, hampir 600 kapal masih terjebak di Teluk Persia, menunggu untuk keluar lewat selat itu. Ratusan kapal lainnya juga nunggu di sisi lain. Vortexa bilang, “Kalau kesepakatan AS-Iran selesai dan perusahaan asuransi mau ngasuransi kapal, tanker ballast bakal naik, lalu produksi minyak mulai lagi, dan kilang juga mulai beroperasi.”
Prospek produksi minyak AS yang lebih tinggi berdampak negatif buat harga minyak. Departemen Energi (DOE) hari Selasa lalu ningkatin perkiraan produksi minyak AS 2026 jadi 13,72 juta bph, dari perkiraan Mei 13,65 juta bph.
Harga minyak dapat dukungan dari serangan drone Ukraina yang terus-terusan ke infrastruktur minyak Rusia. Tanggal 1 Juni, Bloomberg ngelaporin bahwa Rusia melarang ekspor bahan bakar jet setelah serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia mencapai rekor tertinggi di bulan Mei. Produksi kilang Rusia bulan Mei turun -13% year-on-year jadi 4,58 juta bph, terendah sejak Oktober 2009. Sanksi AS dan Uni Eropa ke perusahaan minyak Rusia, infrastruktur, dan tanker juga mengurangi ekspor minyak Rusia.
Badan Energi Internasional (IEA) bilang di laporan bulan Mei, stok minyak global turun sekitar 4 juta bph di bulan Maret dan April. Pasar bakal tetap kekurangan pasokan sampai Oktober, meskipun konflik segera berakhir. Goldman Sachs ngira produksi minyak di Teluk Persia udah berkurang sekitar 14,5 juta bph, dan gangguan ini udah menguras hampir 500 juta barel dari stok minyak global. Jumlah itu bisa capai satu miliar barel di bulan Juni.
Faktor negatif buat minyak, perwakilan OPEC bilang tanggal 14 Mei bahwa mereka mau lanjutin kenaikan kuota minyak di bulan-bulan ke depan. Targetnya, produksi yang selama ini dihentikan bakal kembali beroperasi penuh akhir September. OPEC udah setuju buat mengembalikan sekitar dua pertiga dari potongan pasokan 1,65 juta bph yang mereka lakukan di 2023. Tanggal 3 Mei, OPEC+ bilang bakal naikin produksi 188.000 bph di bulan Juni, setelah naik 206.000 bph di bulan Mei. Tapi, kenaikan produksi sekarang kayaknya gak mungkin karena produsen Timur Tengah dipaksa kurangi produksi akibat perang di sana. Produksi minyak OPED bulan Mei turun -3,36 juta bph ke level terendah dalam 40 tahun, yaitu 16,33 juta bph.
Vortexa ngelaporin hari Senin, minyak mentah yang disimpan di tanker yang udah diam setidaknya 7 hari turun -6,9% week-on-week jadi 76,50 juta barel di minggu yang berakhir 12 Juni.
Laporan EIA hari Rabu kemarin nunjukkan: (1) stok minyak mentah AS per 5 Juni -5,3% di bawah rata-rata musiman 5 tahun, (2) stok bensin -5,9% di bawah rata-rata, dan (3) stok distilat -13,9% di bawah rata-rata musiman 5 tahun. Produksi minyak mentah AS di minggu yang berakhir 5 Juni naik +0,7% jadi 13,799 juta bph, sedikit di bawah rekor tertinggi 13,862 juta bph yang dicapai di minggu 7 November.
Baker Hughes ngelaporin hari Jumat kemarin, jumlah rig minyak aktif AS di minggu yang berakhir 12 Juni naik +2 jadi 433 rig, yang merupakan level tertinggi dalam 11 bulan. Jumlah ini naik dari level terendah 406 rig pada Desember 2025. Tapi, jumlah rig minyak AS masih jauh di bawah rekor tertinggi 627 rig yang dilaporkan di Desember 2022.
Pada tanggal publikasi, Rich Asplund gak punya posisi (langsung atau gak langsung) di sekuritas yang disebut di artikel ini. Semua informasi dan data di artikel ini cuma untuk tujuan informasi. Artikel ini pertama kali terbit di Barchart.com.