Kapal perang Amerika memberikan sinyal yang jelas pada Sabtu lalu saat mereka melintasi Selat Hormuz. Ini menantang kendali Iran atas jalur air sempit yang mungkin akan menentukan hasil perang di Timur Tengah.
USS Michael Murphy menyalakan sistem identifikasi otomatis (AIS) nya saat melintas bersama kapal perusak lain, USS Frank E. Peterson. Ini melanggar protokol biasa, di mana kapal angkatan laut biasanya berlayar dengan AIS dimatikan.
“Kamu tidak mungkin menyalakan AIS secara tidak sengaja di kapal perang,” kata profesor Salvatore Mercogliano dari Campbell University. “Ini sengaja. Mereka ingin menunjukan bahwa mereka sudah berlayar melewati selat itu.”
Komando Pusat AS mengatakan kapal perusak itu mulai menyiapkan kondisi untuk membersihkan ranjau laut yang dipasang oleh Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Mereka menambahkan bahwa lebih banyak pasukan AS, termasuk drone bawah air, akan bergabung dalam usaha pembersihan dalam hari-hari mendatang. Mereka menekankan bahwa selat ini adalah jalur laut internasional dan koridor perdagangan yang penting.
Laksamana Brad Cooper mengatakan dalam pernyataannya bahwa Komando Pusat sedang “membuka jalur baru” untuk industri maritim agar perdagangan bisa lancar.
Cengkeraman Iran atas selat ini, yang sebelumnya dilalui seperlima minyak dan gas alam cair dunia, telah memicu krisis energi global. Ini juga menjadi alat tekanan utama Iran terhadap AS.
Pelintasan kapal perusak ini terjadi bersamaan dengan dimulainya pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran di Pakistan akhir pekan ini. Namun, jika Angkatan Laut AS berhasil membuat jalur aman untuk kapal tanker tanpa perlu izin dan bayar tol ke Iran, maka posisi tawar AS akan menguat.
Sebagai tanggapan, IRGC menantang kapal perusak AS saat melintas, berdasarkan rekaman percakapan radio dari kapal sipil.
“ini adalah peringatan terakhir. Ini peringatan terakhir,” kata IRGC.
“Kami melintas sesuai hukum internasional. Tidak ada niatan menantang anda, dan kami berniat mematuhi aturan gencatan senjata pemerintah kami,” balas kapal AS.
Media Iran mengatakan kapal perusak itu berbalik arah setelah dihadang IRGC, yang dilaporkan meluncurkan drone ke arah kapal-kapal tersebut. IRGC juga mengatakan setiap upaya kapal militer melintasi selat akan dihadapi dengan “tindakan tegas dan keras.”
Hingga kini, kapal perang AS menghindari selat itu karena dijuluki “kotak pembunuhan” Iran, yang penuh ancaman seperti rudal anti-kapal, drone, kapal serang cepat, dan ranjau. Karena selatnya sangat sempit, serangan bisa dilancarkan dari jarak dekat dan memberi waktu sangat sedikit untuk bertahan.
Sementara itu, militer AS terus mengirimkan kekuatan tempur tambahan ke wilayah tersebut. Kapal induk ketiga serta ribuan marinir dan pasukan payung diperkirakan tiba pada akhir bulan ini. Rudal jelajah jarak jauh juga semakin banyak dikirim ke Timur Tengah.
Mercogliano mengatakan ada tanda-tanda sebelumnya bahwa Angkatan Laut mengisi ulang persediaan kapalnya via Pulau Diego Garcia, mungkin untuk amunisi. Kapal tempur pesisir, yang dilengkapi drone bawah air pemburu ranjau, juga mungkin akan dilibatkan.
Meski tidak jelas apakah kapal perusak memasuki selat bersama kapal-kapal itu atau tidak, ini tetap menjadi tonggak penting bagi perdagangan minyak.
“Salah satu hal yang ditunggu kapal komersial adalah apakah selat ini sudah aman, dan mengirim dua kapal perusak masuk adalah langkah besar,” tambahnya.
Meski pembicaraan gencatan senjata berlangsung, bentrokan militer lain antara AS dan Iran mungkin segera terjadi. Pendiri Rapidan Energy, Bob McNally, mengatakan ia pikir AS sedang “bersiap untuk ronde kedua.”
Dia mengatakan, saat AS melemahkan kemampuan Iran mengancam lalu lintas kapal, pengaruh Iran akan berkurang. Kondisi untuk gencatan senjata permanen dengan pembukaan penuh Selat Hormuz mungkin bisa terwujud nanti bulan ini.
McNally membandingkan netralisasi ancaman Iran dengan permainan ‘pukul tikus’, mencatat beragam senjatanya. Dia menyebut AS telah mengurangi persediaan ranjau bawah air Iran.
“Mungkin tidak banyak dilaporkan, tapi saya percaya militer AS dalam seminggu terakhir fokus ‘memukul tikus-tikus’ itu, melemahkan kemampuan Iran,” tambahnya. “Kamu mungkin tidak bisa menghilangkannya sempurna, tapi dengan mengurangi kemampuan Iran mengganggu pelayaran ke level yang bisa dikelola— saat itulah asuransi bisa berperan, dan kapal-kapal bisa mulai melintas.”