Sudah hampir satu tahun menjabat, Wali Kota San Francisco Daniel Lurie memberikan penilaian jujur tentang masalah terbaru kota itu: Pemerintah kota menjadi lawan bagi mesin ekonomi yang seharusnya mereka andalkan. Berbicara di konferensi Fortune Brainstorm AI awal Desember, Lurie mengakui kalangan politik kota sebelumnya berasumsi bahwa bisnis akan mentolerir hambatan tanpa akhir.
“Kami menganggap remeh komunitas bisnis kami,” kata Lurie kepada Fortune Editorial Director Andrew Nusca. “Kami bilang ‘Kami bisa terus menghukummu… dan kamu akan tetap disini.’ Tapi itu tidak terjadi. Orang-orang pergi.” (Hingga 2024, San Francisco kehilangan penduduk setiap tahun sejak 2020. Total kehilangan penduduk bersih antara 30.000 hingga 55.000, dari populasi sekitar 834.000.)
“Kalangan terpilih di San Francisco menganggap remeh warganya,” kata Lurie, dari seniman hingga restoran dan pengusaha. “Kami tidak akan melakukan itu lagi.”
Lurie, yang mencatat Balai Kota dulu berfungsi seperti “semacam lawan” bagi usaha kecil karena birokrasi berlebihan, kini berusaha mengubah dinamika itu dengan menjadikan pemerintah sebagai mitra. Meski ingin modernisasi infrastruktur kuno kota dengan inovasi ala Silicon Valley, dia secara tegas menolak mantra terkenal industri tech “bergerak cepat dan hancurkan”.
“Saya tidak pikir kita harus menghancurkan sesuatu… di pemerintah,” kata Lurie. Dia mengakui kota perlu mengadopsi “alat-alat yang diakui baik,” tetapi menekankan penerapannya harus selalu mempertimbangkan keselamatan dan peraturan.
Keselamatan dulu, inovasi kedua
Pendekatan hati-hati tapi maju ini paling terlihat dalam penanganan Lurie atas keamanan publik, yang dia sebut sebagai prioritas mutlak.
“Tidak ada yang penting jika kamu tidak bisa menjaga orang tetap aman,” ujarnya. Untuk itu, kota telah menggunakan teknologi baru, termasuk drone sebagai penanggap pertama dan pembaca plat nomor, untuk melacak aktivitas kriminal tanpa terlibat kejar-kejaran berbahaya.
Strateginya tampak membuahkan hasil. Lurie melaporkan kejahatan turun 30% di seluruh kota dan 40% di Financial District dan Union Square. Selain itu, dia mencatat kota saat ini mengalami tingkat pembunuhan terendah sejak tahun 1950-an.
“Kami adalah kota Amerika yang sangat aman,” kata Lurie, sambil mencatat masih ada masalah besar untuk ditangani, terutama “krisis kesehatan perilaku di jalanan kami.”
Perang melawan ‘birokrasi’
Sebagian besar strategi “mitra, bukan lawan” Lurie melibatkan pembongkaran birokrasi kota yang terkenal buruk. Dia menyoroti absurditas struktur pemerintahan San Francisco, dengan menunjukkan kota itu memiliki 150 komisi—hampir tiga kali lipat jumlah di Los Angeles, meski LA populasi sepuluh kali lebih besar.
Untuk merampingkan operasi, pemerintahannya meluncurkan “Permit SF”, sebuah inisiatif digitalisasi yang bertujuan mengganti formulir kertas dengan sistem digital terpadu. Tujuannya agar pemilik bisnis mengisi satu formulir yang dikirim ke semua dinas diperlukan, daripada mengunjungi jendela terpisah untuk persetujuan pemadam kebakaran, perencanaan, dan kesehatan.
Kembali ke kantor: daya tarik, bukan perintah
Mengenai revitalisasi pusat kota, Lurie mengatakan dia mengambil pendekatan soft-power, termasuk untuk kembali ke kantor.
“Tugas saya sebagai wali kota San Francisco bukan menyuruh orang untuk dikantor lima hari seminggu,” katanya. “Tapi menciptakan kondisi agar orang ingin berada di kantor.”
Dia berargumen bahwa dengan menjamin jalanan bersih dan transportasi umum yang andal, kota dapat secara alami menarik pekerja kembali. Dia menyebut budaya kantor tujuh hari seminggu dari perusahaan AI besar seperti Anthropic dan OpenAI sebagai bukti energi kota yang kembali, mengisyaratkan bagaimana budaya "996" telah menyebar di Silicon Valley.
Mendefinisikan naratif
Pada akhirnya, Lurie percaya tantangan terbesar kota adalah psikologis—khususnya, “sentimen” warganya sendiri.
“Tampaknya hal tersulit adalah pendapat warga San Francisco tentang diri mereka sendiri… kamu harus mencintai dirimu sendiri sebelum orang lain mencintaimu,” ujarnya.
Dia mengatakan tujuan utamanya untuk tiga tahun tersisa masa jabatannya adalah mengembalikan status San Francisco sebagai “kota kelas dunia yang didamba-dambakan dunia,” memastikan kota itu tidak lagi didefinisikan oleh kritik luar, tetapi oleh penduduknya sendiri.
“Ini adalah kota terhebat di dunia ketika kami berada di kondisi terbaik,” kata Lurie. “Dan saya pikir orang-orang mulai melihat itu lagi.”