Ikon Tombol Panah Bawah

Sejak AlphaFold dari Google DeepMind memecahkan masalah lama protein-folding di tahun 2021, peran AI dalam sains sering dilihat sebagai pencarian terobosan besar—bukti bahwa mesin bisa pecahkan masalah yang manusia tidak bisa. Tapi, Anthropic ngebawa ide berbedah: bahwa agen AI mungkin lebih penting di kerja sehari-hari antara penemuan-penemuan besar.

Dalam wawancara eksklusif, para pemimpin dari Anthropic dan Allen Institute bilang mereka pakai agen AI bertenaga Claude untuk atasi hambatan analisis, anotasi, dan koordinasi dalam penelitian yang biasa memakan waktu tahunan.

### Abad ke-21 yang Dipadatkan
Jonah Cool dari Anthropic terinspirasi oleh esai CEO-nya yang berargumen bahwa AI akan memadatkan kemajuan biologi 50-100 tahun ke depan jadi hanya 5-10 tahun. Visi ini disebut “abad ke-21 yang dipadatkan”, yang bisa bawa pencegahan penyakit menular, pengurangan kematian kanker, dan terapi untuk Alzheimer.

Cool bilang, AlphaFold itu luar biasa, tapi fokus mereka beda. Ini soal masukkan AI ke kerja harian tim sains, ambil alih tugas-tugas yang memakan waktu, biar manusia bisa fokus pada penemuan baru.

Grace Huynh dari Allen Institute bilang, penggunaan agen AI di lembaganya bertujuan untuk percepat bagian spesifik dari proses riset, seperti analisis data yang biasa makan bulanan, bukan pakai AI di semua tempat.

### Tidak Ada Peneliti yang Bisa Lihat Semua Hubungan
“Kita mulai mencapai titik di mana ‘sains besar’ adalah norma,” kata Huynh. Data yang dihasilkan ilmuwan sekarang begitu banyak—dari genomik sel tunggal sampai peta koneksi otak—sehingga tidak ada peneliti tunggal yang bisa pahami semuanya.

Cool bilang, Allen Institute dan HHMI adalah partner ideal karena mereka sudah menghasilkan dataset dan alat sains yang dipakai luas. Mempercepat analisis di tempat-tempat seperti ini akan bantu seluruh komunitas sains.

MEMBACA  Bitcoin Tembus di Bawah $90.000, Saham Kripto Anjlok Diterpa Gejolak Perdagangan Trump

### Masa Depan di mana AI Bantu Buat Hipotesis
Cool juga jelaskan masa depan di mana agen AI tidak hanya analisis hasil, tapi juga bantu ilmuwan putuskan hipotesis mana yang harus dikejar—menyaring ratusan kemungkinan eksperimen jadi hanya beberapa yang paling layak, bahkan usulkan desain DNA baru.

“Kita bergerak ke arah model yang bisa bantu buat hipotesis,” katanya. “Kita mulai dengan, ‘bantu saya prioritaskan hipotesis yang saya punya’, karena sumber daya terbatas.”

Tinggalkan komentar