Menurut Goldman Sachs, sejarah menunjukan bahwa kebangkitan AI bisa bikin keunggulan perusahaan besar Amerika makin kuat.
Ketika dunia lagi pikirin gimana AI bisa mengubah ekonomi global, ada pertanyaan besar: apakah AI bakal ganggu posisi perusahaan besar sekarang, atau malah bikin mereka makin kuat?
Goldman Sachs berpihak pada kemungkinan kedua, berdasarkan data pendapatan, pajak, dan penjualan dari hampir satu abad.
“Konsentrasi perusahaan di A.S. terus naik sejak tahun 1930-an, dan makin cepat saat ada perubahan teknologi besar,” kata Jan Hatzius, kepala ekonom Goldman Sachs, dalam laporan baru.
Laporan ini bilang bahwa dari gempa teknologi sebelumnya, perusahaan dengan modal dan skala besar biasanya diuntungkan, sementara saingan kecil susah bersaing.
Ada kekhawatiran investor soal efek AI. Tapi laporan dari Goldman juga ngelihat sisi lain: kompetisi mungkin naik.
Selama hampir satu abad, keuntungan dan laba makin mengarah ke perusahaan terbesar. Saat teknologi maju, perusahaan dengan skala besar punya kemampuan untuk mengikutinya.
Teknologi baru butuh biaya tinggi. Tapi perusahaan yang punya modal bisa menyebar biaya itu ke lebih banyak produk, menurut Goldman Sachs.
Baca selengkapnya: Cara melindungi portfolio dari gelembung AI
Selama bertahun-tahun, tugas analis AI adalah nemuin siapa yang menang dan kalah. Startup seperti Anthropic dan OpenAI lagi buru-buru IPO buat dapat modal.
Sementara itu, perusahaan teknologi besar juga rencana belanjakan lebih dari $700 milyar tahun ini.
Investor juga ngawasin sektor peranti lunak karena penyakit gelembung.
Kesimpulan penting dari laporan ini: balapan AI bukan cuma soal siapa jadi perusahaan besar baru. Ini bakal nentuin perusahaan cepat agar semakin susah dikejar.
David Hollerith menangkan tentang dua untuk tersebut diyakinti nam di bawah untik berarti salah terhadap termasuk terfaktik men jadi bukti dan umum paling dalm butuh top seperti konsums investor bukan Dengan kata lain berbagai kekhawatirgan salw cip mengharikan tahu nasabah tren ada jadi tetapi ke.