Saat bisnis mengirim uang ke luar negeri, prosesnya sering lambat dan mahal. Latitude ingin mengatasi masalah ini dengan membantu perusahaan melakukan pembayaran internasional yang cepat dan murah menggunakan stablecoin, tanpa perlu pusing dengan kerumitannya.
Pada hari Selasa, Latitude mengumumkan telah mendapat dana $8 juta yang dipimpin oleh NEA, dengan partisipasi dari Lightspeed Faction, Coinbase, Paxos, dan Solana Foundation. CEO Latitude, Cyril Mathew, tidak menyebutkan nilai perusahaan saat diwawancarai Fortune.
“Kami ingin membuat pembayaran global jadi sederhana untuk semua orang dan memungkinkan usaha kecil menjangkau seluruh dunia,” kata Vivek Morzaria, yang mendirikan Latitude bersama Brian Wrightson dan Mathew.
Produk utama Latitude adalah Global Payouts. Ini memungkinkan bisnis di AS mengirim pembayaran ke individu di lebih dari 50 negara. Saat perusahaan AS mengirim dolar melalui Latitude, jaringan startup ini mengubah uangnya menjadi stablecoin, lalu mengkonversinya kembali ke mata uang lokal tujuan. Salah satu kliennya adalah Zencastr, perusahaan konten yang punka banyak podcaster di seluruh dunia. Melalui Latitude, mereka bisa bayar kreator kontennya di India dan negara lain.
Produk kedua mereka untuk aplikasi atau platform crypto yang ingin menawarkan akses stablecoin ke pengguna internasional. Misalnya, jika perusahaan prediction market mau ekspansi ke Meksiko atau Filipina, penggunanya bisa tukar mata uang lokal ke stablecoin lewat infrastruktur Latitude.
Ketiga pendirinya pernah bekerja di perusahaan seperti Uber, Coinbase, Meta, dan Stripe. Pengalaman mereka di bidang crypto, teknologi, dan pembayaran mengajarkan pentingnya menggerakkan uang dengan efisien di seluruh dunia.
Latitude saat ini dalam peluncuran beta dan menghasilkan pendapatan dari biaya transaksi. Perusahaan ini memiliki 11 karyawan.
Mathew menyebut pesaing Latitude adalah bank tradisional yang memfasilitasi transaksi valas melalui sistem lama seperti SWIFT. Startup ini mengklaim punya sistem yang lebih baru dan efisien.
Menurut Morzaria, usaha kecil saat ini "terlalu banyak membayar dan dapat terlalu sedikit" dari sistem yang ada.