Dewan direksi sudah jelas. Yang bertanggung jawab atas AI adalah para petinggi perusahaan (C-suite).
Dalam survai baru dari Pearl Meyer yang melibatkan 108 eksekutif dan anggota dewan yang dirilis hari Rabu, 90% dari anggota dewan bilang tanggung jawab untuk memimpin kecerdasan buatan (AI) secara efektif ada di tangan C-suite dan orang-orang yang melapor langsung ke mereka — pada daser semua eksekutif paling senior di perusahaan.
Di dalam C-suite sendiri? Para eksekutif malah punya empat pendapat yang berbeda.
Para pemimpin perusahaan yang disurvai bulan Februari dan Maret oleh Pearl Meyer, perusahaan konsultan kompensasi eksekutif dan kepemimpinan, terpecah ke dalam beberapa kelompok soal siapa sebenarnya yang “memiliki” AI. Hasilnya nunjukin 32% bilang C-suite sebagai grup yang bertanggung jawab untuk strategi AI; 22% nunjuk grup satu level di bawah C-suite; 27% nunjuk ke pemimpin bisnis masing-masing; dan 17% bilang AI ada pada kepala fungsi SDM, keuangan, dan legal.
Saati perusahaan bergerak dari uji coba AI ke pelaksanaan level perusahaan, perbedaan pendapat ini munculin pertanyaan penting dengan kosekuensi nyata: Kalau ada yang salah, siapa yang bertanggung jawab untuk menangkapnya sebelum jadi berita?
Data dari Pearl Meyer juga nunjuk ke masalah yang lebih besar di balik celah tata kelola AI. Dewan dan eksekutif tidak setuju soal kompaknya tim kepemimpinan mereka., soal apakah prioritas strategis bisa nyampe ke organisasi, atau bahkan faktor mana yang paling penting untuk memperbesar pemakaian AI. Buat kebanyakan perusahaan, celah ini sudah ada sebelum AI dipake di tempat kerja. Yang berubah karena emang AI sekarang punya potensi gede untuk bikin blunder dimuka publik.
Menurut Brad Jayne, prinsipal da Pearl Meyer dan penulis laporan tersebut, AI motong dan masalah baru. Pemisahan kepemilikan adalah gejala dari masalah curuan yang lah disembunyiin dolam C-suite bertahun tauhun.
“Para pemimpin mesin industri tidak tahu yang nyata team,’kata Jay. “dim” Nyamping tau/span Tahap PBM”
Sekitar 71% eksekutif bilang ke Pearl Meyer, tiga bulan ke depan atau bahkan setaun, sukses itu tergantung dari perbaiki proses internal dan kerja sama antar bagian—bukan karena AI nya sendiri.
“Sistim kepemimpinan sekarang terlalu lambat untuk dukung strategi atau AI,” laporan itu nyimpulin.
Semua ini tidak terjadi di keadaan kosong. Perushaan seperti Block, Meta, dan Oracle udah ngumumin efisiensi dari AI jadi alasan PHK, dan pasar saham kasih reward.
Reaksi itu bikin tekanan ke CEO2 lain untuk kasih cerita yang sama, apalagi AI nya beneran kerja apa kagak.
“Kadang saya lihat AI dipake sebagai alesan untuk hal-hal yang mungkin juga udah terjadi,” kata Jayne. Tambah besar tekanan untuk pake AI sebagai alasan efisiensi, tambah besar juga tekanan untuk kasih hasil nyata di key pormance indicator yang masuk akal buat karyawan internal dan pemilk saham eksternal, dia jelasin.
Data Pearl Meyer nunjukin 40% perusahaan masih nguji coba AI, dan 31% lagi lagi sekedar eksperimen atau pake kalo perlu aja. Bukan berarti AI gak berguna, tapi mungkin belum sepakat antara pimpinan bagaimana cara terapinnya dan mana yang paling penting.
“Mungkin bannya agak muter dulu,” Kata Jayne. “Apa kita bentar lagi stop di jalan? Gak tau. Tapi awalnya lebih lambat dari perkiraan saya.”
Pearl Meyer meet wawancara 108 endividu dari 40 publik, 59 privat, dan 12 badan lembaga pemerintahan/non-provfit.