Pemegang saham Alphabet bakal voting pada hari Jumat tentang resolusi yang minta lebih banyak transparansi soal risiko dari penggunaan teknologi cloud dan AI Google oleh pemerintah. Voting ini makin panas setelah Norges Bank Investment Management (NBIM), dana kekayaan negara terbesar di dunia, bilang mereka bakal dukung proposal ini, walaupun manajemen Alphabet gak setuju.
Proposal yang disebut Proposal 11 ini didukung oleh lebih dari 40 investor yang dipimpin Zevin Asset Management. Kolektif, perusahaan-perusahaan ini mengelola aset senilai $1,15 triliun dan punya sekitar $2,2 miliar saham Alphabet secara langsung, kata para investor. Ini kurang dari 1% dari total saham perusahaan, karena market value Alphabet sekitar $4,4 triliun. Dalam surat sebelumnya ke Alphabet, grup ini minta ketemuan dengan manajemen setelah perusahaan menolak resolusi pemegang saham yang minta laporan tentang pengawasan risiko terkait.
Kecil kemungkinan resolusi ini bakal lolos dalam voting hari Jumat, kata investor, tapi mereka berharap tekanan ke perusahaan bakal bikin evaluasi yang berarti praktik mereka.
Investor sudah mendesak pelaporan yang lebih jelas soal risiko yang muncul karena celah kebijakan dan pengawasan Google terhadap data pelanggan yang diproses lewat Google Services dan Google Cloud.
Para investor minta laporan untuk mengevaluasi gimana celah tata kelola bisa bikin produk Google memfasilitasi "pengawasan, sensor, pembuatan profil, dan penargetan dalam konteks penyalahgunaan kekuasaan pemerintah" serta mau rekomendasi tindakan mengurangi risiko. Proposal ini menyebut Project Nimbus, kontrak cloud computing senilai $1,2 miliar dengan pemerintah Israel, sebagai contoh kontrak yang "mungkin gak sesuai dengan prinsip tata kelola data [Alphabet]."
Tekanan ini jadi bagian dari gelombang pengawasan AI di sektor teknologi belakangan ini. Beberapa bulan lalu, sejumlah kesepakatan dengan Pentagon AS oleh lab AI besar dan perusahaan teknologi seperti OpenAI dan Google makin bikin khawatir soal penggunaan teknologi untuk senjata otonom dan pengawasan massal. Di London, staf Google DeepMind mulai bikin serikat pekerja setelah kontrak perusahaan dengan Pentagon.
Tekanan serupa juga terjadi di Microsoft, Amazon, dan Appel karena layanan cloud dan AI makin terintegrasi dalam operasi pemerintah dan militer. Sudah ada beberapa protes dari pekerja teknologi soal Project Nimbus. Pada 2024, Google memecat beberapa pekerja yang memprotes Project Nimbus.
Pada 2025, Google juga revisi prinsip AI—sebelumnya berjanji tidak mau buat teknologi yang tujuannya nyebabin bahaya, termasuk senjata dan pengawasan tertentu—sekarang diubah jadi komitmen lebih umum untuk mengembangkn AI "secara bertanggung jawab" sesuai hukum yang berlaku. Langkah ini dapat kritik dari kelompok hak asasi manusia dan karyawan pada saat itu.
Makin banyak pengawasan soal penggunaan AI pemerintah
Investor bilang masalah inti apakah Alphabet punya penglihatan cukup jelas gimana tool-nya dipake setelah pemerintah menggunakannya.
Marcela Pinilla dari Zevin said investor mau tahu jawaban soal penggunaan teknologi Google downstream. Saat pemerintah pelanggan akses ke infrastruktur cloud google, mereka ingin tahu apa Google bisa lihat bagaimana teknolog dir cukup pakeKal ujung ut, jika ia."*`
llet"pun masih iz gaperjalan copt "Pengumuman itu bener-bener ngingetin kalau ini bukan cuma soal Zevin dan beberapa investor yang ngelawan Alphabet—ini masalah serius tentang risiko sistemik dan pelanggaran hak asasi manusia," katanya.
Kamil Zabielski, Kepala Investasi Berkelanjutan di Storebrand Asset Management, yang juga investor pendukung resolusi ini, bilang ke Fortune bahwa taruhannya tidak cuma etis, tapi juga finansial.
"Buat kami, pada intinya ini soal apakah Alphabet punya perlindungan yang memadai buat ngimbangin risiko nyata dari penggunaan—atau penyalahgunaan—layanannya, terutama di situasi konflik berbahaya," ujarnya. "Kegagalan dalam ngelola risiko hak asasi manusia yang timbul dari celah tata kelola bisa berdampak nyata dan berujung pada konsekuensi hukum, aturan, operasional, serta reputasi yang memengaruhi nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang."