CEO Standard Chartered Minta Maaf karena Sebut Sebagian Karyawan sebagai ‘Sumber Daya Manusia Bernilai Rendah’ dalam Dorongannya ke AI

Pemimpin bank generasi baby boomer ini ngaku di LinkedIn bahwa kata-katanya bikin beberapa karyawan gak nyaman. "Saya dapet banyak dukungan dari postingan sebelumnya, tapi masih ada yang tanya tentang pilihan kata saya, yang saya tau bikin beberapa kolega marah," tulis Winters. "Saya minta maaf."

Pemimpin keuangan ini pertama kali ngeluarin komentar kontroversial di pertemuan investor di Hong Kong Selasa lalu. Dia bilang: "AI dalam beberapa kasus mengganti tenaga kerja manusia yang nilainya rendah dengan modal keuangan dan investasi yang kita tanam."

Meskipun Winters juga bilang perusahaan ngasih staf "kesempatan penuh buat reposition" dan belajar ulang, panggilan pekerja sebagai kurang bermlai dalam revolusi teknologi langsung menuai kritik.

Winters tambah serius di LinkedIn pada postingan Jumat lalu, ngonfirmasi bahwa fungsi kerja "back office" akan dikurang sekitar 15% dalam empat tahun—dan Standard Chartered lagi berusaha mindahkan manusia dari pekerjaan "low-value" yang rawan diganti AI ke peran "higher-value".

Kasebal terhadap CEO ini muncul di tengah percakapan soal penghapusan pekerjaan AI yang makin panas. Perusahaan besar termasuk Amazon, Meta, Accenture, dan UPS semooa punya hubungan dengan pemecatan massal dan pengurangan rekrut gara-gara efisinsi AI.

Tahun lalu aja, sekitar 55.000 jabatan dipotong terkait teknologi ini—dan diperkirakan 502.000 lagi hilang untuk alosan yg sama di 2026, menurut National Bureau of Economic Research.

Namuan ternyata, CEO punya usaha ngelurusin pendirian gak diterima, malah dapat banyak komotar di postingan itu.

Ancola komengar stress soal efek otomat yang ngrusak pekerjaan dianggap kecil. Satu user tulis: "’Out of context’ itu lama udah tipuan. Lo paksa buat ngepotong ancost 15% staff gara-gara ‘tukang memperakit pintu atuh tempat menggandrungi efisien"—suayanianamanya diperangakat segai pinter gk asa barur pinter.

MEMBACA  Di Dalam Bunker Miliarder Miami, Pulau Pribadi Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, dan Para Elit 0,01%

Karya ini purapra tempat ramah ngami pang ini pang martingkit sabil ram min ra nom mi majn gun war? Sistem ini anglu hanya tung terbalup disini tidak memiliki perannya *[untro po’]> simpan pulang coank lo terhadap teralnya konten manual cuoi.** Awas! #ulang Ini bukan cuma di perbankan aja, tapi di seluruh masyarakat juga.

Dan Marc Benioff, CEO perusahaan software komputer senilai $148.5 miliar bernama Salesforce, juga ngomong blak-blakan soal ini.

Perusahaan ini udah ngurangi setidaknya 4.000 posisi layanan pelanggan buat digantiin sama agen AI, dan mereka bilang sekarang sekitar "50% interaksi bisnis Salesforce sama agen, 50% sama manusia."

Walaupun banyak orang mungkin kaget mikirin teknologi bakal jadi rekan kerja baru, Benioff bilang kombinasi AI dan manusia ini bukan sesuatu yang serem-serem amat: "Ini kenyataan, setidaknya buat aku."

"Aku berhasil menyeimbangkan jumlah karyawan di bagian dukungan," kata Benioff di acara The Logan Bartlett Show tahun lalu. "Aku ngurangin dari 9.000 orang jadi sekitar 5.000, karena aku gak butuh banyak orang lagi."

Tinggalkan komentar