Saham Booking Holdings (BKNG) mencapai level terendah baru dalam 52 minggu pada hari Senin. Ini terjadi karena ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat.
Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras mengenai Selat Hormuz. Dia mengancam akan melakukan serangan militer besar ke Iran minggu ini. Karena itu, harga saham BKNG jatuh di bawah rata-rata pergerakan 20 harian. Ini menandakan tren penurunan jangka pendek.
Dengan penurunan terkini ini, saham Booking telah turun sekitar 20% sejak awal tahun ini.
Retorika yang memanas antara Washington dan Teheran menciptakan situasi ‘risk-off’. Situasi ini sangat merugikan perantara perjalanan global karena mengancam stabilitas wilayah pertumbuhan kunci.
Saham BKNG berisiko karena perusahaan punya eksposur besar ke pasar Asia melalui merek Agoda. Perusahaan juga punya kehadiran signifikan di Eropa.
Jika ketegangan geopolitik berlanjut, harga minyak bisa naik lagi. Harga minyak sudah dekat $110 per barel. Kenaikan ini bisa mendorong naiknya biaya bahan bakar pesawat dan tiket pesawat internasional.
Selain itu, serangan infrastruktur di Timur Tengah meningkatkan ketakutan akan ketidakstabilan regional yang lebih luas. Ini membuat para pelancong menunda perjalanan internasional. Hal ini langsung mempengaruhi volume transaksi dan pertumbuhan ‘room-night’ Booking Holdings.
Meski ada gejolak, ada beberapa faktor yang membuat pembelian saham Booking pada penurunan saat ini layak dipertimbangkan.
Perusahaan travel-tech ini baru saja melakukan stock split 25-untuk-1. Ini menurunkan harga nominal saham secara signifikan, membuatnya lebih mudah diakses investor ritel.
Biasanya, manuver strategis seperti ini meningkatkan likuiditas dan permintaan. Ini membantu mendorong kenaikan harga saham dari waktu ke waktu.
Pada hari Senin, analis di Truist Securities juga mengeluarkan catatan positif untuk Booking Holdings. Mereka mempertahankan rating “Beli” dan target harga $231 (setelah penyesuaian split).
Menurut mereka, bisnis BKNG yang terdiversifikasi secara global memposisikannya dengan kuat untuk menangkap pertumbuhan perjalanan jangka panjang — terutama di Asia — setelah tekanan geopolitik mereda.
Firma investasi itu juga menyebutkan margin bruto Booking yang menarik sebesar 87% dan dividend yield yang menguntungkan sebagai alasan pandangan konstruktif mereka.