Bangkitnya ‘Finfluencer’: Dapatkah Nasihat Keuangan di Media Sosial Dipercaya?

Finfluencer atau penasehat keuangan di media sosial sekarang mengubah cara orang belajar tentang uang. Banyak orang, terutama yang muda, tidak lagi pakai buku panduan atau pergi ke penasehat keuangan profesional. Mereka lebih suka cari tahu tentang **membuat anggaran**, **berinvestasi**, dan **melunasi utang** dari tokoh-tokoh di platform seperti Instagram atau TikTok.

Beberapa finfluencer memberikan informasi yang dapat dipercaya. Tapi yang lain, batas antara edukasi dan hiburan menjadi tidak jelas. Kadang mereka promosikan strategi yang tidak bisa dipakai di dunia nyata. Membedakan mana yang baik dan buruk sangat penting untuk kesehatan finansial kamu.

Generasi yang lebih tua biasanya tanya keluarga atau penasehat keuangan untuk masalah uang. Tapi survey Gallup menunjukkan, banyak anak muda usia 18-29 tahun lebih sering gunakan situs keuangan dan media sosial (42%) untuk nasehat. Bahkan 23% mengaku mengikuti konten kreator keuangan.

“Konten finfluencer bisa buat topik uang terasa lebih mudah dan tidak menakutkan,” kata Tori Dunlap, seorang finfluencer terkenal. “Ini bantu normalisasi pembicaraan soal keuangan dan kurangi rasa malu.”

Sayangnya, tidak semua kreator punya niat baik atau keahlian yang cukup. Laporan dari CFP Board menemukan lebih dari separuh responden pernah buat keputusan finansial yang disesali karena informasi online yang menyesatkan.

“Masalahnya, media sosial suka hal yang sederhana dan cepat, bukan yang detail,” tambah Dunlap. “Keputusan keuangan jarang yang cocok untuk semua orang, tapi nasehat sering diberikan secara umum. Konten sponsor dan link afiliasi juga bisa pengaruhi nasehat yang dibagi.”

Konten keuangan online bisa jadi sumber edukasi yang bagus dan beri kamu **tips menghemat uang**. Tapi sebelum ikut nasehat siapapun, selalu riset dulu sumbernya dan pastikan informasinya akurat.

MEMBACA  Indonesia Perketat Sasaran Bantuan Sosial dengan Perombakan Data

Hati-hati dengan konten yang teralu bagus untuk jadi kenyataan, seperti tips “cepat kaya” atau yang manfaatkan rasa takut dan malu kamu.

“Promosi produk berlebihan, tidak jelas apakah itu sponsor, dan kurangnya penjelasan untuk siapa nasehat itu, harusnya jadi perhatian,” jelas Dunlap. “Edukasi keuangan yang baik harusnya bikin orang merasa lebih mampu, bukan tertekan.”

Saat kamu browsing, ada cara untuk memeriksa informasi yang kamu lihat:

1. Periksa kredensial dan lisensi. Banyak kreator cantumkan informasi kualifikasi mereka. Jika tidak, cari namanya di internet. Gelar seperti **CFP®**, **CFA®**, **CPA**, dan **RIA** adalah kredensial umum yang bisa diverifikasi. Gelar seperti “pelatih uang” atau “ahli keuangan” tidak punya makna hukum.

2. Cari tahu konflik kepentingan. Finfluencer yang kredibel akan jelaskan dengan transparan jika kontennya disponsori atau ada link afiliasi. Selalu tanya, “siapa yang diuntungkan dari nasehat ini?”

3. Waspadai klaim yang ekstrim. Klaim seperti “bebas risiko” atau janji hasil cepat adalah tanda bahaya. Dalam kehidupan nyata, keputusan uang jarang ada jaminannya. Strategi yang “cocok untuk semua” atau rahasia yang “tidak ingin diketahui bank” sering kali menyembunyikan risiko dan kesulitan sebenarnya.