Meskipun sudah ada kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, Teluk Persia masih sering terjadi pertempuran. Kedua pihak berusaha menguasai Selat Hormuz.
Iran bersikeras semua kapal harus mendapat izin dari mereka. Mereka sudah menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas di luar jalur yang disetujui di dekat pantai Iran.
AS membalas dengan mengebom lokasi-lokasi Iran yang dipakai untuk serangan drone dan rudal. Mereka juga melindungi kapal-kapal yang menggunakan jalur alternatif di dekat pantai Oman.
Pejabat tinggi AS sudah meminta Teheran membuat pernyataan resmi bahwa selat itu terbuka dan kapal tidak akan diserang. Tapi kemampuan Iran untuk menutup selat itu adalah sumber kekuatan utama mereka untuk mengancam ekonomi global dengan krisis minyak.
Pemboman AS selama berbulan-bulan dalam perang gagal membuka selat itu sepenuhnya. Namun Angkatan Laut AS berhasil membuat jalur alternatif dengan mengarahkan kapal dan melindungi mereka dari serangan Iran.
Hasilnya dalam beberapa minggu terakhir adalah jalan buntu. AS tidak mau mundur dalam usahanya mengembalikan pelayaran bebas, sementara Iran tidak mau melepaskan otoritasnya.
Solusinya mungkin seperti cerita dalam Perjanjian Lama tentang Raja Salomo yang memerintahkan bayi dipotong jadi dua karena diperebutkan dua perempuan.
Oman sudah menyusun rencana untuk mengatur lalu lintas di selat itu dengan dua jalur terpisah, kata sumber kepada CNN pada hari Sabtu.
Rencana itu belum final, tapi intinya mengizinkan pelayaran bebas di jalur selatan lewat perairan Oman, seperti kondisi sebelum perang.
Sedangkan di jalur utara lewat perairan Iran, kapal harus minta izin dulu dari Teheran, meskipun tidak ada pungutan biaya, lapor CNN.
Menteri luar negeri Iran sudah bertemu dengan menteri luar negeri Oman di Muscat pada hari Sabtu untuk membahas cara menjaga keselamatan pelayaran di selat itu, kata CNN.
Kementerian luar negeri Oman belum memberi tanggapan saat dimintai konfirmasi.
Tentu saja, tidak ada jalur yang benar-benar bisa digunakan sampai perusahaan perkapalan dan asuransi merasa aman untuk melintas, tidak peduli apa kata AS atau Iran.
Menjaga jalur Oman dari serangan Iran sudah menjadi tanggung jawab militer AS. Mereka punya kendali penuh di situ, walau beberapa serangan masih bisa tembus.
Tapi meskipun AS bisa menangkal semua drone dan rudal Iran, kapal-kapal harus tetap bisa keluar masuk untuk mengangkut dan mengirim pasokan minyak dari Teluk Persia. Sampai itu terjadi, pasar minyak akan tetap tertekan dan negara-negara pemakai minyak akan terus menguras cadangan mereka.
Situasi saat ini di bawah gencatan senjata yang rapuh mungkin tidak bisa bertahan lama. AS dan Iran sudah memberi isyarat tidak mau kembali perang besar-besaran, tapi pertempuran kecil masih mungkin terjadi.
Dan Alamariu, ahli strategi geopolitik di Alpine Macro, mengatakan dalam catatan hari Rabu bahwa AS bisa mencoba membuka selat itu dengan kekuatan militer. Operasi militer sekarang menunjukkan AS mungkin sedang bersiap untuk opsi ini.
Cara lain adalah “melemahkan Iran secara ekonomi” dengan memberlakukan blokade laut lagi. Ini disebutnya “jalan yang paling sedikit perlawanannya,” kecuali nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu ditegaskan kembali.
Alamariu memperkirakan mungkin perlu kesepakatan baru. Tapi dalam prosesnya, lebih banyak pertempuran, blokade, atau keduanya bisa saja terjadi.
“Pada akhirnya, kedua belah pihak harus segera membuat kesepakatan karena kerentanan di dalam negeri: pemilu tengah semester AS yang akan datang, dan kelemahan ekonomi serta politik Iran,” jelasnya. “Kesepakan baru sangat mungkin terjadi dalam 1-2 bulan (atau lebih cepat), meskipun waktu dan jalur eskalasi masih sangat tidak pasti. Serangan dan balasan serangan saat ini adalah cara untuk tawar-menawar, karena AS dan Iran berusaha mendapatkan pengaruh yang lebih besar.”