Di Barat, sekarang banyak terjadi perpecahan antara ‘kapitalisme dan anti-kapitalisme’. Yat Siu, pendiri Animoca Brands, pikir Asia bisa jadi pemimpin dalam gelombang baru inovasi AI dan cryptocurrency.
“Dari pengalaman saya di komunitas crypto di Eropa dan Amerika, orang-orang mulai buat jarak antara crypto dan AI, juga bilang keduanya ga boleh berhubungan,” kata Siu ke Fortune di acara SuperAI summit di Singapura. “Di Asia, kita ga punya masalah ini karena kita lebih nyaman sama uang.”
Siu dirikan Animoca Brands tahun 2014. Perusahaan ini awalnya fokus bikin game mobile gratis, lalu pindah ke blockchain gaming dan NFTs di 2018. Perusahaan ini juga sering investasi di dunia Web3, udah dukung lebih dari 600 perusahaan AI dan blockchain termasuk platform investasi GROW Digital Wealth dari China dan AWARP, perusahaan induk Laos National Digital Technology Group.
Ketertarikan investor di cryptocurrency udah mulai turun. Saham perusahaan crypto turun puluhan persen dalam 12 bulan terakhir, sementara saham AI lagi naik pesat. Perusahaan modal ventura crypto kayak Paradigm, sekarang juga udah mulai investasi ke AI dan robotika.
Tapi Siu bilang AI dan blockchain itu saling terhubung erat. “Biar bener-bener berdayakan AI, kita harus kasih AI akses ke uang, biar dia bisa transaksi sendiri untuk kita… dan teknologi yang bisa bikin ini aman dan berskala adalah blockchain,” katanya.
Perusahaan pembayaran gede kayak Visa, Mastercard, sama Stripe udah mulai izinin pembayaran pake stablecoin, juga bikin sistem biar AI bisa cari dan beli barang untuk pengguna. Exchange kayak Coinbase udah bikin lebih gampang untuk AI agent lakuin transaksi pake cryptocurrency.
Konsumen global masih lambat adopsi stablecoin dibanding cara bayar tradisional. Hanya 7 miliar dolar dari total setelmen tahunan di platform Visa yang pake cryptocurrency, dari total 14 triliun dolar.
Siu yakin mungkin ada 200 milyar AI agent yang bakal beroperasi. “Agent-agent bakal dagang sama satu sama lain, mereka bakal bernegosiasi, bukan cuma buat bisnis, tapi juga buat hubungan sosial,” katanya. (Sekarang dia sendiri pake 280 agent untuk kerjain tugas-tugas berbeda).
Dia ragu perusahaan kartu kredit bisa ‘lindungi posisi mereka’ di pasar pembayaran yang lagi berubah cepat. Secara teori, sistem pembayaran blockchain bisa potong peran perantara—entah itu perusahaan kartu kredit, bank tradisional, atau perusahaan transfer uang kros-boder—dan ambil untung dari biaya transaksi.
“Agent cuma pilih yang lebih baik, lebih cepat, lebih murah,” gunjanya loh. “Kalo agent kamu transaksi sama agent saya, lo pikir dia akan pake kartu kredit yang kena biaya 2.5%, atau transaksi on-chain yang hampir tanpa biaya?”