AI Lebih Murah seperti DeepSeek China Sangat Diterima, Ungkap Menteri Digital Singapura Josephine Teo

Singapura akan menyambut model lebih murah seperti DeepSeek dari Cina, kata menteri digital negara itu, karena negara dan perusahaan kecil mencoba cari cara dapat untung dari AI tanpa bayar harga mahal untuk teknologinya.

Perushaan yang pertimbangkan pakai AI pasti harus pikirkan biaya, kata Josephine Teo, menteri pengembangan digital dan informasi Singapura, di konferensi Fortune Brainstorm AI Singapura hari Selasa.

“Dari sisi turunkan biaya, inovasi seperti DeepSeek sangat disambut,” ujarnya.

Model AI DeepSeek bantu picu penjualan triliunan dolar di pasar finansial AS awal tahun ini. Startup AI Cina ini buktikan bisa bikin model AI yang setara performa model canggih, tapi pakai lebih sedikit sumber daya untuk latihan. Saham teknologi anjlok saat investor nilai ulang apakah belanja modal besar untuk perlombaan AI benar-benar worth it. Meski Big Tech AS sudah pulih dari penjualan DeepSeek, perusahaan seperti Microsoft dan Amazon masih dikabarkan nilai ulang belanja pusat data mereka.

Sebaliknya, DeepSeek picu lonjakan saham teknologi Cina, saat investor coba masuk ke perkembangan AI di ekonomi terbesar kedua dunia.

Teo jelaskan Singapura tak pakai DeepSeek dalam rencana AI sendiri, tapi tunjukkan ini bagian dari perubahan besar di teknologi baru ini untuk penuhi kebutuhan global.

“Kami tahu model bahasa besar yang dilatih utamanya di korpus Barat, mungkin pakai Inggris sebagai bahasa, akan susah diterapkan di konteks Asia Tenggara,” jelasnya.

AI yang dilatih pakai Inggris, bukan salah satu dari ratusan bahasa Asia Tenggara, “mungkin tak memenuhi syarat Singapura dan negara tetangga kita.”

Singapura bantu kembangkan proyek SEA-LION (Southeast Asian Languages in One Network), sekumpulan model bahasa besar sumber terbuka yang dilatih di berbagai bahasa regional seperti Vietnam dan Melayu.

MEMBACA  Menteri Prancis Menyerukan Penghapusan Uang Tunai, Ini Penjelasannya

AS, Cina … dan Singapura

Pejabat Singapura coba ambil jalan tengah antara Washington dan Beijing, ungkap harapan tak berpihak. Negara Asia Tenggara ini sekutu keamanan AS, tapi juga punya hubungan budaya dan ekonomi erat dengan Cina.

“Pendekatan konsisten Singapura adalah bertindak sesuai kepentingan kami sendiri,” kata Teo. “Kami tentu harap hubungan dua raksasa bisa memanas lebih jauh, tapi ini bukan sesuatu yang bisa kami harap akan terjadi.”

Tapi, Teo bilang Singapura bisa belajar dari AS dan Cina soal AI. Misalnya, dia sebut tata kelola AI sebagai salah satu bidang kerja sama dengan Washington.

Cina, di sisi lain, tawarkan contoh bagaimana AI bisa dipakai. “Kami lihat dasar industri Cina begitu luas dan dalam sehingga aplikasi AI bisa sangat menarik untuk dilihat dan dipelajari,” ucapnya.

Singapura juga akan kembangkan keterampilan AI di dalam negeri. Teo jelaskan rencana negara ini perluas kumpulan “praktisi AI” ke “orang di profesi”: pengacara, dokter, akuntan, dan pekerja manufaktur.

“Mereka akan dapat fasilitas pakai AI, lalu bisa tunjukkan bagaimana mereka bisa ciptakan lebih banyak nilai untuk organisasi mereka,” ujarnya.