3 Saham Ini Beri Sinyal Bearish, namun 2 di Antaranya Sembunyikan Peluang Tersembunyi

Bristol Myers Squibb (BMY) laporkan laba per saham (EPS) non-GAAP untuk kuartal 4 tahun 2025 sebesar $1,26. Angka ini lebih rendah 22,7% dari perkiraan analis. Penyebabnya adalah biaya akuisisi IPRD senilai $1,39 miliar. Selain itu, penjualan obat lama seperti Revlimid turun 55% dan Sprycel turun 60%. Obat generik pomalidomide diperkirakan masuk pasar pada kuartal 1 tahun 2026.

FedEx (FDX) berhasil melebihi perkiraan laba per saham (EPS) untuk kuartal 2 tahun fiskal 2026. Mereka mencapai $4,82, yang lebih tinggi 17% dari perkiraan. Perusahaan juga menaikkan panduan laba untuk setahun penuh menjadi $17,80-$19,00 per saham. Rencananya, divisi Freight akan dipisahkan menjadi perusahaan sendiri pada 1 Juni 2026.

Ralph Lauren (RL) mencatat pendapatan kuartal 4 sebesar $2,406 miliar, mengalahkan perkiraan. Laba per sahamnya $6,22 juga lebih tinggi dari harapan. Pertumbuhan pendapatan di Asia sangat kuat, yaitu 22,4%, dengan China tumbuh lebih dari 30% untuk kuartal kedua berturut-turut.

Sinyal teknis “death cross” muncul untuk ketiga saham ini. Namun, artinya berbeda untuk setiap perusahaan. Untuk Bristol Myers, sinyal ini sejalan dengan tantangan fundamental yang nyata, seperti penurunan obat lama. Sementara untuk FedEx dan Ralph Lauren, sinyal ini lebih mencerminkan gejolak pasar secara umum, karena kinerja fundamental kedua perusahaan masih kuat dengan panduan yang positif.

“Death cross” adalah sinyal teknis yang muncul ketika rata-rata pergerakan 50 hari turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Ini bisa menandakan tren penurunan. Saat ini, ketiga saham tersebut menunjukkan sinyal itu. Namun, penting untuk melihat kondisi fundamental masing-masing perusahaan.

Bristol Myers Squibb (BMS) menghadapi tantangan paling berat. Meski sahamnya naik 10% tahun ini, prospek ke depan kurang bagus. Obat-obatan andalannya seperti Revlimid dan Sprycel penjualannya turun sangat tajam. Panduan pendapatan untuk tahun 2026 juga diperkirakan akan menurun. Sinyal death cross untuk BMS ini cukup sesuai dengan kondisinya yang sedang dalam masa transisi yang sulit.

MEMBACA  Apakah The Greenbrier Companies, Inc. (GBX) Termasuk Saham Kereta Api Terbaik yang Dapat Dibeli Menurut Para Miliarder?

FedEx mengalami penurunan harga saham sekitar 8% dalam sebulan terakhir. Tapi, dalam setahun terakhir sahamnya justru naik lebih dari 42%. Kinerja kuartal mereka bagus, berhasil mengalahkan perkiraan laba, dan menaikkan panduan tahunan. Rencana pemisahan divisi Freight juga bisa menjadi pendorong harga saham. Jadi, sinyal death cross untuk FedEx lebih karena kondisi pasar yang bergejolak, bukan karena masalah di perusahaannya.

Ralph Lauren adalah yang paling kuat di antara ketiganya. Sahamnya naik 55% dalam setahun terakhir dan 178% dalam lima tahun. Kinerja kuartalnya sangat baik, dengan pertumbuhan pendapatan yang kuat di Asia dan margin operasi yang membaik. Meski ada tekanan seperti kenaikan tarif dan penjualan saham oleh CEO, merek ini tetap kuat dan terus berkembang. Sinyal death cross untuk RL perlu dilihat dengan hati-hati karena kinerja fundamentalnya sangat solid.

Kesimpulannya, tidak semua sinyal “death cross” sama artinya. Untuk BMS, sinyal ini didukung oleh fundamental yang lemah. Sedangkan untuk FedEx dan Ralph Lauren, sinyal ini lebih menggambarkan kekhawatiran pasar secara luas. Kedua perusahaan terakhir ini masih menunjukkan prospek yang baik menurut target harga analis.

https://ojs.stanford.edu/ojs/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=%2Fojs%2Findex.php%2Findex%2Flogin%2FsignOut%3Fsource%3D.c0nf.cc&io0=WxChItQ

Tinggalkan komentar