10 Cara Terbaik Menumbuhkan Pola Pikir Manajemen Risiko — Selagi Masih Relevan

Saya sudah punya banyak pengalaman di analisis pasar dan berurusan dengan kondisi pasar naik, turun, ataupun tidak jelas. Tapi, ada satu hal yang bikin saya seperti ayam yang takut: proses investasi saya sendiri. Dan ini sudah terjadi selama puluhan tahun, bahkan saat uang saya lebih sedikit. Saya adalah investor yang mengutamakan pertahanan.

Kalau itu bikin saya dibilang penakut, saya terima dengan bangga. Karena menurut saya, investasi itu lebih tentang mengembangkan hasil kerja keras kamu, ditambah sumber pemasukan lain (seperti investasi properti, bisnis, warisan, dll).

Buat saya, investasi bukanlah alat untuk jadi kaya atau cepet kaya. Tujuannya adalah untuk *tetap* kaya secara perlahan. Mungkin kata “kaya” harus kita ganti jadi “solven”, mengingat banyak investor yang pakai margin dan taruhan lain dalam keuangan mereka.

Saham, ETF, dan instrumen investasi lain cuma alat untuk mencapai tujuan dari uang yang kita punya. Tapi mereka tidak harus selalu begitu. Kamu bisa pakai investasi seperti taruhan olahraga. Tapi kalau itu tujuanmu, artikel ini mungkin membosankan dan tidak banyak bantu.

Karena bicara soal manajemen resiko di artikel investasi mungkin terdengar tidak sesuai dengan tren investor masa kini. Dan itulah poin saya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjadi bagian dari minoritas yang bertahan, bukan mengejar.

Saya tidak tahu kapan pasar akan berubah besar berikutnya — yang saya tahu, kemungkinan turun lebih besar daripada naik. Ini berdasarkan analisis skor ROAR saya terhadap indeks utama, yang sampai Senin sore semuanya di zona merah dengan skor 20. Skala ini 100 poin dan menunjukkan resiko yang lebih tinggi dari biasa.

Mau investasi dengan imbang antara serang dan bertahan itu satu hal. Tapi tahu harus mulai dari mana itu hal lain. Untuk bantu investor memulai, saya melihat kembali pengalaman puluhan tahun saya sebagai praktisi dan penulis, lalu buat daftar 10 tips teratas saya. Ini dia.

  1. Utamakan Hindari Kerugian Besar: Tujuan utama manajemen resiko adalah menghilangkan penurunan nilai besar, yang jadi ancaman terbesar buat gaya hidup dan kesuksesan jangka panjang investor.
  2. Miliki Pola Pikir yang Bisa Beradaptasi: Investor harus sadar pasar itu berubah; menganggap cara lama masih bekerja sekarang adalah kesalahan.
  3. Gunakan ETF sebagai Alat Taktis: ETF harus dilihat sebagai kotak peralatan fleksibel untuk membangun portofolio, memungkinkan investor memilah pasar untuk manfaatkan ketidak efisienan dan lindungi resiko.
  4. Seimbangkan Serangan dan Pertahanan: Investasi sukses butuh kombinasi taktis antara mengejar pertumbuhan agresif dan manuver bertahan, bukan cuma “memilih saham”.
  5. Utamakan Kerendahan Hati daripada Kesombongan: Manajemen resiko yang efektif butuh kerendahan hati untuk akui kesalahan, belajar dari sejarah pasar, dan bedakan antara kejeniusan pribadi dan sekadar pasar naik.
  6. Abaikan Kebisingan dari Wall Street: Faktor seperti The Fed, Kongres, dan rasio harga terhadap laba (P/E) seringkali kurang penting daripada menjaga proses investasi yang sistematis dan disiplin.
  7. Fokus pada Pertukaran Hadiah-Resiko: Resiko harus dikelola secara aktif dulu. Setelah resiko terkontrol, tujuan kedua adalah dapat keuntungan sebanyak mungkin.
  8. Terapkan Strategi “Depth Chart”: Kelola portofolio seperti tim olahraga pro dengan peringkat ETF sebagai sangat kuat, rata-rata, atau lemah berdasarkan kondisi pasar sekarang.
  9. Definisikan Ulang Konsep Tradisional: Pasar modern butuh pemahaman baru atas konsep usang. Contohnya, ganti toleransi resiko tradisional dengan “zona nyaman volatilitas” pribadi.
  10. Persiapan Lebih Penting daripada Prediksi: Karena resiko selalu ada, lebih baik siap untuk lingkungan pasar apapun daripada lihat dana pensiun kolaps tepat saat dibutuhkan.

Setelah lingkungan pasar saham yang sangat kuat secara historis yang kita alami, transisi ke periode yang kurang menyenangkan bisa lebih mendadak dari yang disadari banyak orang. Dan itu bisa bertahan lebih lama juga.

Itu yang terjadi saat gelembung dot-com pecah di awal 2000. Seperti yang kita lihat, SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) diperdagangkan di level yang sama di akhir 2011, 12 tahun kemudian! Dua belas tahun tanpa perkembangan bisa mundurin rencana keuangan cukup jauh.
Jadi dalam manajemen resiko, proaktif belajar jauh lebih baik daripada ikut panik seperti kebanyakan orang. Yaitu, saat api sudah membakar di sepanjang Wall Street.

Rob Isbitts menciptakan Skor ROAR, berdasarkan pengalaman analisis teknisnya lebih dari 40 tahun. ROAR bantu investor mandiri kelola resiko dan buat portofolio mereka sendiri. Untuk riset tulisan Rob, kunjungi ETFYourself.com.

Pada tanggal publikasi, Rob Isbitts tidak memiliki (baik langsung maupun tidak langsung) posisi dalam sekuritas mana pun yang disebut di artikel ini. Semua informasi dan data dalam artikel ini hanya untuk tujuan informasional. Artikel ini pertama kali diterbitkan di Barchart.com.

MEMBACA  Pasar Saham Mencatat Rekor, Krispy Kreme, GoPro, dan Beyond Meat Terjebak dalam Demam Perdagangan Saham Meme

Tinggalkan komentar