Jakarta (ANTARA) – Memasuki tahun baru 2026, Indonesia dan beberapa negara menghadapi strain influenza A, atau H3N2, yang menyebar dengan cepat dan diberi julukan ‘super flu’.
Juga dikenal sebagai Subclade K, cabang baru dari virus influenza H3N2 ini baru-baru ini dikaitkan dengan peningkatan kasus flu di beberapa negara, termasuk Inggris, AS, Australia, Jepang, dan sebagian Eropa.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), aktivitas influenza musiman meningkat di seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir, dengan proporsi kasus yang terdeteksi disebabkan oleh virus influenza A (H3N2) semakin besar.
WHO mencatat bahwa meskipun aktivitas influenza global tetap dalam tingkat musiman yang diperkirakan, beberapa wilayah melaporkan peningkatan yang lebih awal dari biasanya dan aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan biasanya pada waktu ini tahun.
Di Eropa, subclade K pertama kali terdeteksi di Norwegia, diikuti oleh Inggris, di mana musim influenza dimulai 4–5 minggu lebih awal dari biasanya, menurut Vaccine Alliance (Gavi).
Di AS, aktivitas influenza rendah sebelum Thanksgiving tetapi sejak itu meningkat pesat setelah perjalanan liburan dan pembukaan sekolah kembali, dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan setidaknya 2,9 juta penyakit, 30.000 rawat inap, dan 1.200 kematian sejauh musim ini.
Sebagian besar kasus disebabkan oleh influenza A (H3N2), dengan subclade K kini mendominasi.
Di Australia, musim flu—yang biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober—telah berlangsung luar biasa lama, dengan infeksi yang terkait dengan varian H3N2 subclade K terjadi menjelang akhir musimnya.
Meskipun notifikasi influenza telah terus menurun dalam beberapa pekan terakhir, virus ini terus beredar.
Sementara itu, hingga akhir 2025, Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat 62 kasus subclade K tersebar di delapan provinsi, dengan sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Temuan ini diperoleh dari pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, menunjukkan bahwa subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas kesehatan.
Pada awal Oktober, jumlah kasus influenza mengalami lonjakan signifikan, mencapai 38 persen. Peningkatan ini banyak dipengaruhi oleh perubahan musim, karena penularan virus influenza cenderung meningkat selama suhu lebih dingin, khususnya pada musim hujan.
WHO telah mengkonfirmasi bahwa berdasarkan data epidemiologi saat ini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit, dengan gejala umumnya mirip dengan flu musiman, termasuk demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.
Namun, strain ini mewakili evolusi yang cukup berarti yang memerlukan pemantauan ketat.
Tingkatkan Surveilans
Kementerian Kesehatan menekankan bahwa hingga akhir Desember 2025, situasi terkait varian H3N2 subclade K di Indonesia masih ‘terkendali’ dan tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan dengan clade atau subclade influenza lainnya.
Meski demikian, pemerintah akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan aktivitas influenza di dalam negeri.
Memperkuat surveilans terpadu dan merespons dengan cepat perkembangan aktivitas influenza dianggap kunci untuk mengatasi penyebaran penyakit ini.
Surveilans ketat, yang mencakup jumlah kasus, keparahan gejala, dan pola penularan, harus terus berjalan, di samping mempersiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi peningkatan kasus.
Dengan memperkuat deteksi hulu melalui sistem surveilans yang terukur, pemerintah dapat mengambil keputusan yang tepat sasaran dan berbasis data.
Menurut Prof. Masdalina Pane, profesor riset epidemiologi dan biostatistika di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pengendalian wabah sangat bergantung pada pengoptimalan Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini. Secara teori, sistem ini bekerja seperti radar yang memantau ambang batas epidemiologi.
Memperkuat fungsi surveilans di titik-titik pelayanan kesehatan terpilih juga sangat penting untuk menjaga sensitivitas deteksi kasus, tambahnya. Dengan data yang berkualitas, pemerintah dapat mengukur tingkat kategori varian ini secara presisi.
Namun, upaya pemerintah juga harus berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan memperkuat sistem imun.
Oleh karena itu, masyarakat didorong untuk memperkuat sistem imun dengan menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, mencuci tangan, istirahat yang cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.
Melalui sinergi antara surveilans dan disiplin individu, diharapkan risiko super flu dapat dicegah.
Vaksinasi
Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa vaksin flu yang ada saat ini tetap efektif dalam mengurangi risiko sakit berat, rawat inap, dan kematian akibat varian subclade K.
Hal ini sejalan dengan perkiraan awal yang diterbitkan di Eurosurveillance yang menyebutkan bahwa vaksin efektif 72-75 persen pada anak dan remaja, sementara efektivitasnya sekitar 32-39 persen pada orang dewasa.
Dengan demikian, pemberian vaksinasi influenza tahunan—terutama kepada kelompok rentan, termasuk lansia, ibu hamil, dan penyandang komorbid—sangat penting untuk melindungi diri dari paparan virus.
Untuk meminimalkan penularan, seseorang yang mengalami gejala flu—termasuk suhu tinggi, batuk, dan merasa lelah atau pegal—sebaiknya berusaha meminimalkan kontak dengan orang lain, mempertimbangkan untuk mengenakan penutup wajah, dan mengonsumsi obat untuk meredakan gejala.
Berita terkait: Bandara Bali pasang pemindai suhu untuk deteksi kasus Super Flu
Berita terkait: Indonesia tingkatkan surveilans flu burung di tengah kenaikan kasus global
Berita terkait: Indonesia genjot surveilans untuk cegah flu burung pada manusia
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026