Ringkasan Berita:
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengkritik LPDP karena dinilai tidak tepat sasaran. Menurutnya, beasiswa banyak diberikan ke siswa dari keluarga mampu yang seharusnya bisa bayar sendiri.
Stella mendesak agar "kebutuhan ekonomi" jadi syarat wajib di samping prestasi. Tujuannya, agar uang pajak rakyat benar-benar membantu siswa yang kurang mampu.
Terkait polemik alumni yang menghina negara, Stella menyebut itu adalah kegagalan pendidikan moral dan nasionalisme sejak dini.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, Ph.D, memberikan kritik keras terhadap sistem pemberian beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Stella menilai skema LPDP saat ini tidak tepat sasaran. Sebab, hanya berdasarkan prestasi tanpa pertimbangan latar belakang ekonomi keluarga penerima.
Akibatnya, uang negara justru dinikmati oleh orang-orang yang secara finansial sebenarnya sudah mampu.
Baca juga: Geram, Dirut LPDP Sudarto Tegas ke Alumni: Lu Pakai Duit Pajak Rakyat, Jaga Etika dan Nasionalisme
Pernyataan ini disampaikan Stella menanggapi polemik alumni LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang viral karena menghina status WNI dalam sebuah wawancara di Metro TV.
Kegagalan Moral dan Kritik “Salah Sasaran”
Stella menyebut sikap alumni yang mencibir negara sendiri sebagai bentuk kegagalan pendidikan moral dan nasionalisme.
Tapi, ia juga menyoroti akar masalahnya, yaitu kebijakan seleksi beasiswa yang belum tepat. Menurutnya, kejadian ini jadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi penggunaan uang pajak.
“Beasiswa negara harus tepat sasaran. Harus diberikan untuk mereka yang berprestasi *dan* membutuhkan. Jangan sampai uang negara cuma diberikan ke yang berprestasi, tapi keluarganya sebenarnya mampu,” tegas profesor lulusan Harvard itu.
Baca juga: Berpendidikan Mentereng dan Terseret Polemik Beasiswa, Isyana Sarasvati Luruskan Bukan Penerima LPDP
Stella mengungkapkan, sampai saat ini LPDP belum menjadikan latar belakang ekonomi sebagai parameter utama seleksi.
“LPDP sampai saat ini belum atau tidak sama sekali mempertimbangkan latar belakang ekonomi. Hanya berdasarkan prestasi. Inilah saatnya kita mengubah kebijakan tersebut,” tambahnya.
Belajar dari Harvard: Prestasi Plus Kebutuhan Ekonomi
Stella membandingkan dengan pengalamannya sendiri mendapat beasiswa dari SMA sampai PhD di universitas elit seperti Harvard.
Ia menekankan, beasiswa yang ia terima bukan cuma karena kecerdasan, tapi terutama karena faktor ekonomi keluarganya yang tidak mampu.
“Orang tua saya tidak mampu menyekolahkan saya di Harvard. Karena itulah saya dapat beasiswa. Faktor ekonomi itu yang paling penting dalam bagi-bantuan bantuan negara,” jelas Stella.