Wajar MBG Memiliki Kekurangan, Ini Baru Pertama Kali Dilaksanakan

Senin, 20 April 2026 – 01:58 WIB

Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menilai kekurangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejauh ini adalah hal yang wajar. Karena itu, program ini butuh pengawalan yang lebih ketat.

Dalam sambutannya di acara Jaga Desa Award 2026 di Jakarta, Minggu malam (19/4/2026), Hashim berharap pengurus Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (Abpednas) dapat membantu mengawal pelaksanaan MBG di desa-desa.

"Kita lihat memang ada kelemahan-kelemahan, misalnya kasus keracunan, munculnya belatung, dan sebagainya. Tapi saya rasa ini hal yang cukup wajar karena program MBG ini adalah program pertama yang dilaksanakan dan mencakup penerima manfaat yang sangat banyak," ujar Hashim.

Dia mengakui program MBG mendapat banyak kritik dari masyarakat. Namun, aspirasi tulus rakyat itu perlu ditanggapi dengan serius.

Hashim menekankan bahwa MBG adalah program strategis untuk meningkatkan kecerdasan anak bangsa. Program ini dirancang berawal dari keprihatinan Presiden Prabowo Subianto atas masalah stunting yang dialami anak-anak Indonesia sekitar tahun 2006.

"Saya ingat, menurut data Kementerian Kesehatan waktu itu, 30 persen anak Indonesia menderita stunting. Saat itu, Pak Prabowo bilang ke saya, ‘Kalau ini tidak kita tangani, kondisi serius ini bisa kita bayangkan dampaknya 20 tahun lagi’," kata Hashim.

Oleh karena itu, dia menilai pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG sangat penting.

Pada acara yang diselenggarakan Abpednas tersebut, Hashim mengatakan pengurus bisa berkontribusi dengan mendampingi jalannya program MBG. Tujuannya untuk mencegah penyelewengan dan memastikan mutu makanan tetap terjaga.

Dia juga menyoroti aplikasi Jaksa Garda Desa (Jaga Desa) yang digagas Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel).

MEMBACA  Seorang legislator mendukung tindakan Pemerintah RI terkait penembakan fatal terhadap pekerja

"Saya dengar dari Pak Reda (Jamintel Reda Manthovani) sudah ada aplikasi yang bisa segera dipakai. Seluruh anggota Abpednas, mungkin lebih dari 300 ribu orang, di setiap desa bisa melibatkan lima anggota. Dengan aplikasi ini, mereka bisa memfoto dan mengawasi mutu makanan. Ini akan sangat membantu pemerintah. Ini adalah tugas yang mulia dan luar biasa untuk menjaga MBG," jelas Hashim.

Halaman Selanjutnya

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, yang juga hadir dalam acara tersebut, menegaskan komitmen lembaganya untuk melakukan pengawasan menyeluruh terhadap program MBG.

Tinggalkan komentar