Utusan PBB Retno Marsudi Serukan Pendekatan Terpadu untuk Pengelolaan Air

Jakarta (ANTARA) – Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Air, Retno Marsudi, menekankan bahwa pengelolaan air harus bergerak melampaui pendekatan sektoral yang sempit, karena air menghubungkan dan mendukung berbagai aspek kehidupan dan pembangunan.

“Air tidak pernah berdiri sendiri; ia adalah penghubung dan pendorong bagi banyak sektor,” ujarnya dalam Water Town Hall Meeting yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah di Jakarta, Selasa.

Marsudi menjelaskan bahwa manajemen sumber daya air erat kaitannya dengan pertanian, kesehatan, energi, dan industri.

Dia mencatat bahwa sektor pertanian menyumbang sekitar 72 persen dari penggunaan air tawar global. Dari perspektif kesehatan, dia menyoroti bahwa kira-kira 1.000 anak di bawah lima tahun meninggal setiap harinya akibat air yang terkontaminasi dan sanitasi yang tidak memadai.

Di sektor industri, Marsudi menunjuk pada peningkatan permintaan air yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi digital, khususnya ekspansi pusat data.

Menurut paparannya, satu megawatt beban teknologi informasi (TI), yang merujuk pada listrik yang digunakan oleh server dan perangkat digital dengan sistem pendingin evaporatif, dapat memerlukan antara 1,5 juta hingga 3 juta liter air per bulan.

“Air adalah faktor kunci bagi masa depan ekonomi, termasuk industri pusat data, sehingga pengelolaannya harus dirancang secara terpadu dari awal,” katanya.

Marsudi juga menekankan tantangan global dalam memastikan akses terhadap air aman dan sanitasi. Saat ini, sekitar 2,2 miliar orang di dunia tidak memiliki akses ke air minum yang aman, sementara 3,5 miliar orang tidak memiliki layanan sanitasi yang layak.

“Dengan tantangan sebesar ini, kita tidak bisa lagi bekerja secara terisolasi. Krisis air tidak bisa diselesaikan sendirian,” ucapnya.

Dia menggambarkan Water Town Hall Meeting sebagai langkah awal penting untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, sejalan dengan upaya Indonesia untuk mendorong kolaborasi antara pembuat kebijakan, akademisi, pelaku bisnis, dan masyarakat sipil.

MEMBACA  Cianjur mengumumkan darurat selama 14 hari karena retakan tanah

Dia menambahkan bahwa pendekatan terpadu juga menjadi fokus utama menjelang Konferensi Air PBB yang dijadwalkan pada November di Uni Emirat Arab, dengan penekanan lebih besar pada tindakan konkret daripada sekadar komitmen normatif.

“Koordinasi yang kuat diperlukan agar isu air dipandang secara komprehensif, tidak hanya dari perspektif teknis, tetapi juga dari perspektif sosial, ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

Pada acara yang sama, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan pemerintah meningkatkan koordinasi lintas sektor dalam pengelolaan air sebagai bagian dari program Asta Cita, khususnya pilar kedaulatan pangan, energi, dan air.

“Air adalah isu fundamental. Pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara parsial atau oleh satu kementerian saja, karena air sangat penting bagi kehidupan manusia, ketahanan pangan, energi, industri, dan pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Dia menambahkan bahwa pemerintah merumuskan kebijakan dan langkah strategis untuk memperluas akses air bersih perpipaan secara bertahap, meningkatkan efisiensi penggunaan air di sektor pertanian dan industri, serta memperkuat kebijakan pengendalian air untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di daerah padat penduduk.

Berita terkait: Marsudi ajukan pendekatan “Triple A” untuk tangani isu air global

Berita terkait: Utusan PBB Retno Marsudi serukan aksi global mendesak untuk isu air

Penerjemah: Aria Ananda, Frishanti Octavia
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar