Unhas Gunakan Permainan Monopoli untuk Tingkatkan Literasi Iklim Mahasiswa

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin (Unhas) memberikan edukasi kepada siswa SMA tentang adaptasi perubahan iklim. Kegiatan ini dilakukan melalui program belajar partisipatif yang menggunakan permainan Monopoli pada hari Sabtu.

Ketua tim pengajar FMIPA Unhas, Saaduddin, dalam pernyataannya hari Minggu mengatakan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, meningkatkan literasi kebencanaan sejak usia muda sangat penting.

“Perubahan iklim adalah ancaman yang meningkatkan risiko bencana, terutama di daerah pesisir seperti Kabupaten Kepulauan Selayar,” katanya.

Di daerah kepulauan seperti Selayar, dampaknya bisa berupa abrasi pantai, banjir pesisir, intrusi air laut, dan menurunnya hasil perikanan, pertanian, serta berbagai usaha masyarakat.

Maka dari itu, tim Unhas merancang program edukasi dengan menggunakan permainan edukatif Monopoli. Dalam permainan ini, peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga aktif berdiskusi, menganalisis situasi, dan membuat keputusan terkait risiko bencana.

Menurut Saaduddin, pendekatan ini dipilih untuk membangun pemahaman bahwa perubahan iklim terkait erat dengan berbagai risiko yang dihadapi masyarakat pesisir.

Permainan Monopoli ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi bencana, melatih kemampuan berpikir kritis, memperkuat pengambilan keputusan, dan meningkatkan kesadaran bahwa upaya adaptasi perubahan iklim membutuhkan kerja sama semua elemen masyarakat.

“Melalui permainan, peserta didorong untuk mengenali ancaman, kerentanan, kapasitas, dan langkah-langkah adaptasi yang dapat dilakukan secara individu maupun bersama-sama,” katanya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi bencana seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-undang tersebut menekankan pentingnya pendidikan, kesadaran, dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana alam.

MEMBACA  Jeremy Allaire dari Circle: Kami Membangun 'Sistem Operasi Ekonomi' untuk Era Kecerdasan Buatan

Perubahan iklim dipandang sebagai faktor yang dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas berbagai bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan sejak usia dini.

Angga Al Faqih, seorang siswa dari SMAN 1 Selayar, menilai bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman baru tentang pentingnya mitigasi bencana berbasis ilmu pengetahuan.

“Materi yang disampaikan menarik dan dikemas dalam bentuk permainan, sehingga lebih mudah dipahami dan meningkatkan kesadaran saya tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana,” katanya.

Tinggalkan komentar