Terapi CAPD: Harapan Baru bagi Pasien Ginjal

Minggu, 15 Maret 2026 – 05:34 WIB

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) sering disebut sebagai *silent killer*. Gejalanya biasanya tidak terasa di awal dan baru muncul saat sudah masuk stadium lanjut (stadium 4-5).

Data menunjukkan sekitar 90% pasien tidak sadar akan penyakit ginjalnya hingga mencapai stadium lanjut. Jumlah pasien GGK sendiri sudah mencapai 1,5 juta pada tahun 2023 dan diprediksi akan terus naik di tahun 2025.

Pasien yang mengalami Gagal Ginjal Kronis harus menjalani terapi untuk mengganti fungsi ginjal yang rusak. Ada beberapa pilihan terapi, salah satunya adalah Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).

Namun, terapi ini masih belum banyak diketahui. Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengungkapkan bahwa mayoritas pasien di Indonesia langsung menjalani hemodialisis tanpa mendapat penjelasan lengkap tentang alternatif terapi lain.

Tony juga mengatakan banyak pasien baru tahu soal pilihan terapi lain setelah bertahun-tahun menjalani HD.

“Di Indonesia hampir 98% pasien gagal ginjal langsung masuk ke hemodialisis. Sementara pilihan lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan seutuhnya kepada pasien. Bagi kami di KPCDI, ini bukan cuma soal metode, tapi soal hak pasien untuk dapat informasi lengkap dan menentukan pilihan terapinya sendiri,” ujar Tony dalam keterangan resminya, Minggu 15 Maret 2026.

Lalu, apa itu CAPD? CAPD menawarkan pendekatan yang berbeda. Pasien memasukkan cairan pembersih darah (dialisat) melalui selang di perut, mendiamkannya beberapa jam, lalu menguras dan menggantinya 3-4 kali sehari secara mandiri di rumah. Terapi ini memungkinkan pasien untuk tetap bekerja dan mengatur aktivitasnya dengan lebih fleksibel.

Dari sisi biaya, CAPD sudah diatur dalam Permenkes Nomor 3 Tahun 2023 sebagai tarif non INA-CBG, yaitu sebesar Rp8 juta per bulan. Tarif ini sudah mencakup bahan habis pakai, jasa medis, dan biaya distribusi logistik terapi ke rumah pasien.

MEMBACA  Lonjakan XRP Ripple hingga 9% saat Grayscale memperkenalkan XRP trust yang dapat membuka jalan bagi ETF

Sebagai perbandingan, klaim BPJS untuk hemodialisis lewat skema INA-CBG berkisar antara Rp820 ribu sampai Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas rumah sakit dan wilayahnya.

Tinggalkan komentar