Rabu, 27 Agustus 2025 – 15:27 WIB
Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin cepat dalam beberapa tahun belakangan. Teknologi ini nggak cuma bawa efisiensi dan inovasi di berbagai bidang, tapi juga bikin khawatir tentang masa depan pekerjaan.
Baca Juga :
Satgas Pangan Polri Buka-Bukaan, 28 Orang Sudah Jadi Tersangka Kasus Beras Oplosan
Laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF) nunjukkin bahwa dampak AI ke pasar kerja tidak bisa dianggap sepele.
Dalam laporan yang berjudul Future of Jobs, WEF menemukan hampir setengah perusahaan di seluruh dunia berencana bakal mengurangi tenaga kerja pada 2030 karena penggunaan AI. Temuan ini tentu aja memperkuat kekhawatiran banyak orang yang sudah lama cemas soal gelombang otomatisasi.
Baca Juga :
Cemas Kena PHK? 7 Cara Ini Bisa Selamatkan Finansial dan Karier Anda
Tapi, di sisi lain, ada juga kabar baik: mayoritas perusahaan bilang mereka siap untuk tingkatkan keterampilan karyawan biar bisa berkolaborasi dengan teknologi baru.
Baca Juga :
Peringatan Bos Microsoft soal PHK, AI Bisa Ubah Pekerjaan dengan Cepat tapi Banyak Orang Belum Siap
Menurut Tech Co, laporan itu menyebutkan bahwa 41% perusahaan di seluruh dunia berencana bakal kurangi tenaga kerja mereka pada 2030 karena AI. Laporan yang dirilis di awal 2025 itu nunjukkin bagaimana pasar kerja akan terdampak signifikan saat perusahaan makin menekankan kolaborasi antara manusia dan mesin.
Reskilling Jadi Strategi Utama Perusahaan
Selain mengurangi tenaga kerja, 77% bisnis berencana buat lakukan reskilling atau upskilling pada pekerja mereka antara 2025–2030, biar bisa maksimalin program kayak ChatGPT. Tapi, laporan itu juga tekankan bahwa teknologi canggih, termasuk AI, tidak akan bawa dampak “net positif” bagi pasar tenaga kerja.
Teknologi Baru Bisa Menambah Output, Bukan Cuma Menggantikan
Walaupun hasil studi ini mungkin terdengar kurang bagus, ada sisi positifnya juga. Perusahaan sekarang semakin hargai keterampilan yang terkait AI.
Hampir 70% perusahaan berencana rekrut pekerja yang bisa bikin alat atau peningkatan baru berbasis AI, sementara 62% lainnya cari pekerja yang bisa kerja efektif bareng AI.
Laporan WEF juga tekankan bahwa AI punya potensi untuk memperkuat hasil kerja manusia, bukan cuma gantikan mereka. Salah satu kesimpulannya nyebutin pentingnya keterampilan yang berpusat pada manusia.
Halaman Selanjutnya
Selain melakukan pengurangan tenaga kerja, 77% bisnis berencana melakukan reskilling atau upskilling terhadap pekerja mereka yang ada pada periode 2025–2030, untuk bisa memaksimalkan program seperti ChatGPT. Namun, laporan tersebut juga menekankan bahwa teknologi canggih, termasuk AI, tidak disebut akan membawa dampak “net positif” bagi pasar tenaga kerja.