Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata Indonesia telah menyiapkan serangkaian strategi untuk mengurangi dampak dari ketegangan geopolitik global, sambil mempertahankan tren pertumbuhan positif sektor pariwisata negara.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan langkah-langkah ini bertujuan memperkuat daya saing industri pariwisata Indonesia, karena kondisi global menuntut kebijakan yang lebih responsif dan adaptif.
"Langkah-langkah ini penting untuk menjaga daya saing sektor pariwisata Indonesia di tengah situasi global yang memerlukan strategi responsif dan adaptif," kata Widiyanti dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Berbicara dalam webinar nasional "Pariwisata di Bawah Tekanan," ia mengatakan perkembangan geopolitik telah mulai mempengaruhi operasi penerbangan, termasuk penyesuaian rute penerbangan jarak jauh dan kenaikan biaya perjalanan akibat harga bahan bakar yang naik.
Ketegangan di Timur Tengah juga dapat mempengaruhi arus perjalanan internasional ke Indonesia, ujarnya. Pemerintah memperkirakan dampak langsung terhadap kedatangan wisatawan mancanegara bisa mencapai sekitar 4.700 hingga 5.500 pengunjung per hari.
Jika situasi berlanjut, potensi kerugian devisa dapat berkisar antara Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar per hari.
Untuk mengatasi risiko ini, pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah mitigasi, termasuk diversifikasi pasar sumber pariwisata.
Kampanye promosi akan diperkuat di pasar jarak pendek dan menengah dengan konektivitas penerbangan yang relatif stabil, termasuk Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan India.
Kemenpar juga akan mengintensifkan kampanye untuk mempromosikan Indonesia sebagai destinasi yang aman, menarik, dan stabil bagi pelancong internasional.
Selain itu, pihak berwenang akan mengoptimalkan penerbangan langsung, termasuk rute Amsterdam–Jakarta dan Amsterdam–Denpasar yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia.
Langkah ini diharapkan membantu menarik wisatawan Eropa, terutama menjelang musim liburan semi dan panas.
Promosi digital berbasis analisis data juga akan diperluas untuk menjangkau calon pelancong dengan lebih efektif dan meningkatkan dampak kampanye pariwisata.
Aktivitas ekonomi yang digerakkan pariwisata
Widiyanti menyebut pemerintah juga akan mendorong masyarakat Indonesia untuk berwisata di dalam negeri guna menopang aktivitas ekonomi yang digerakkan pariwisata.
Kemenpar berencana mempromosikan acara-acara pariwisata di daerah perbatasan untuk merangsang ekonomi lokal dan menjaga arus pengunjung di destinasi utama.
Wisatawan dari negara tetangga, seperti Singapura yang berkunjung ke Kepulauan Riau, sering melakukan perjalanan berulang, catatnya.
"Oleh karena itu, peluang ini harus dimanfaatkan secara optimal dengan menawarkan berbagai pengalaman seperti wisata golf, wisata belanja, wisata wellness, dan paket perjalanan lainnya," ujarnya.
Pemerintah juga mendorong kerja sama antar kementerian untuk memperkuat daya saing pariwisata. Kementerian terkait meliputi kementerian perhubungan, imigrasi, dan keuangan.
Di antara opsi kebijakan yang sedang dieksplorasi adalah peningkatan kapasitas kursi pesawat, peningkatan keterjangkauan harga tiket pesawat, dan pemberian bebas visa untuk pasar-pasar terpilih.
Menurut Widiyanti, sektor pariwisata Indonesia saat ini sedang mengalami momentum yang kuat. Pada 2025, negara ini mencatat 15,39 juta kedatangan wisatawan mancanegara dan menghasilkan US$18,27 miliar pendapatan devisa.
Meskipun pengunjung dari Eropa, Timur Tengah, dan Amerika hanya menyumbang 21,7 persen dari total kedatangan, mereka berkontribusi 34,7 persen dari pendapatan devisa karena tingkat pengeluaran mereka yang lebih tinggi.
Di tengah ketidakpastian global, perkembangan positif juga muncul dari Asia Timur. Beberapa maskapai, termasuk China Airlines, Spring Airlines, dan China Southern Airlines, dilaporkan berencana menambah frekuensi penerbangan dan membuka rute baru ke Jakarta dan Bali mulai Mei 2026.
Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan sektor pariwisata Indonesia berkinerja kuat pada 2025. Sektor ini menyumbang Rp945,7 triliun, atau 3,97 persen, terhadap produk domestik bruto negara.
Kinerja itu didukung oleh 15,39 juta kedatangan internasional, yang naik 10,7 persen secara tahunan. Aktivitas pariwisata juga menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 25,91 juta orang di seluruh negeri.
Namun, Hartarto mencatat bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menguji ketahanan sektor pariwisata Indonesia dengan mempengaruhi konektivitas global.
Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah memperkuat pasar pariwisata domestik melalui inisiatif micro-tourism. Pihak berwenang juga mempromosikan destinasi bagi digital nomad dan memposisikan Indonesia sebagai destinasi perjalanan kelas atas yang menawarkan pengalaman yang relatif terjangkau.