loading…
Kasus Jenderal Zhang Youxia (tengah) ungkap konflik internal pemerintahan Presiden China Xi Jinping dan krisis komando PLA. Foto/China Talk
JAKARTA – Pada 20 Januari 2026, dalam sebuah sesi studi tingkat tinggi untuk pejabat utama propinsi dan kementerian China, ada satu kursi kosong yang sangat mencolok. Laporan resmi secara samar menyebut kalau dua Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) hadir dalam acara itu.
Tapi, rekaman video malah menunjukkan hal sebaliknya. Jenderal Zhang Youxia, orang nomor dua di Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), tidak terlihat.
Empat hari kemudian, teka-teki itu terjawab. Kementerian Pertahanan Nasional China mengonfirmasi bahwa Zhang, bersama anggota CMC sekaligus Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli, lagi diselidiki atas dugaan “pelanggaran serius disiplin dan hukum.”
“Meskipun Beijing tidak asing dengan kasus korupsi militer atau indisiplin politik, kasus Zhang dinilai jauh lebih sensitif dibandingkan praktik rutin penindakan sebelumnya,” ujar Anushka Saxena, analis Program Studi Indo-Pasifik Takshashila Institution, dalam keterangan di The National Interest, Kamis (29/1/2026).
Sejak 2023, PLA berada dalam keadaan pergolakan yang berkepanjangan. Semua dimulai pada Juli 2023, ketika Departemen Pengembangan Peralatan CMC (EDD) membuka kanal pelaporan untuk pelapor pelanggaran terkait pengadaan militer yang diduga korup sejak 2017.
Pada tahap awal, sasaran penyelidikan masih pejabat yang relatif mudah digantikan, seperti Menteri Pertahanan Li Shangfu dan Komandan Pasukan Roket PLA (PLARF) Li Yuchao. Tetapi krisis itu kemudian melebar.
Menjelang akhir 2025, gelombang pembersihan menyasar kelompok yang dikenal sebagai “geng Fujian,” yaitu pejabat seperti Wakil Ketua CMC He Weidong dan Laksamana Miao Hua, yang membangun karier dari bekas Grup Angkatan Darat ke-31 di Fujian dan Angkatan Laut PLA.
Geng Fujian dan Shaanxi
Untuk sementara Zhang Youxia, seorang veteran pasukan darat dengan basis kuat dalam “geng Shaanxi,” terlihat keluar sebagai pemenang dalam pertarungan internal ini. Dia diduga berperan dalam menjatuhkan faksi Fujian, mungkin karena melihat dominasi mereka atas anggaran pertahanan dan strategi militer sebagai ancaman untuk ambisi pribadinya dan untuk Angkatan Darat yang sangat dia bela.