WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Dunia akademik Indonesia lagi-lagi jadi sorotan di kancah internasional.
Sejumlah warga Indonesia diduga terlibat dalam praktik bikin riset palsu yang pakai kecerdasan buatan alias AI di forum ilmiah global International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pertengahan Mei lalu.
Kasus ini meledak setelah diungkap sama peneliti clinical medicine Universitas Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat, yang ikut hadir dikonferensi itu.
Temuan ini bikin perhatian luas karena menyentuh integritas ilmiah dan nama baih akademik Indonesia di tingkat dunia.
Wa Ode bilang ada beberapa kejanggalan dari kelompok periset Indonesia yang ngejelasin setidaknya 19 abstrak penelitian di forum itu.
Kejanggalan ini bukan cuma soal isi penelitian, tapi juga indikasi penggunaan AI yang gak bertanggung jawab, sampe dugaan manipulasi data penelitian.
Salah satu temuan yang paling kentara adalah munculnya istilah “serotipe O” di grafik penelitian yang dipajang.
Secara ilmiah, istilah itu dianggep gak pernah dikenal di kajian pneumokokus riset pneumonia.
“Seratipe O itu gak ada. Ini langsung jadi tanda tanya gede buat peneliti yang hadir,” kata Wa Ode.
Lebih parah lagi, kelompok itu juga ngaku riset di 12 kamp pengungsian di Afrika dan Timur Tengah.
Tapi, banyak detail di paparan mereka keliatan aneh dan susah dicek kebenarannya.
Bahasa di abstrak penelitian juga mirip banget sama teks hasil AI.
Kecurigaan pun makin kuat waktu kelompook itu diketahui sering presentasi dalam panampilan beda, kayak ganti baju dan hijab di sesi yang beda lagi.
Ada dugaan hal ini cuma biar keliatan kayak penelitian dipresentastikan oleh tim berbuat.
Motif di balik manipulasi ini diduga berhubungan dengan perburuan dana hibah perjalan atau travel grant yang disediakan panitia konferensi.