loading…
Ketua IATL ITB, Chitra Retna Septyandrica, saat membuka FOKAL. Foto: Istimewa
BANDUNG – Saat ini, Indonesia lagi hadapi tiga krisis lingkungan yang saling berhubungan, yaitu masalah sampah, pencemaran air, dan perubahan iklim. Nggak cuma pengaruh ekosistem aja, ketiga isu ini juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan kehidupan sehari-hari.
Tapi, kesadaran dan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap masalah lingkungan masih perlu ditingkatkan lho. Hal ini jadi salah satu topik yang dibahas di acara Forum Akademisi dan Aktivis Lingkungan (FOKAL) dengan tema “Waste, Water, and Climate: Where Knowledge Meets Collective Action”. Forum ini diadakan sama Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITB (IATL ITB) di Aula Timur ITB, Bandung, Rabu (8/4/2026).
Influencer yang udah dikenal sebagai pegiat lingkungan, Pandawara, ngungkapin fakta yang cukup mengejutkan pas awal-awal mereka jalanin aksi bersih-bersih. “Sebelum kami membersihkan saluran air, kami minta izin dulu ke Pak RW setempat. Habis selesai, malah ditanya mana uang kopinya. Padahal kan yang bener, yang bersih-bersih yang harusnya dikasih kopi,” canda salah satu anggota Pandawara, Rifki Sa’dulah.
Baca juga: Pandawara Group Raih Kreator Konten Sosial Paling Berdampak Digital Innovation Awards 2025
“Secanggih apapun teknologinya, kalo nggak ada kesadaran yang dibangun di masyarakat, pemerintah, komunitas, dan diri sendiri, ya percuma aja,” tambahnya.
Selain masalah kesadaran yang masih rendah, hal penting lainya adalah mengubah stigma yang udah melekat di masyarakat. “Masyarakat masih anggap kegiatan bersih-bersih lingkungan, urusin sampah, itu sebagai sesuatu yang memalukan dan kotor. Ini yang perlu diubah biar masyarakat lihat bahwa jaga lingkungan itu sesuatu yang keren,” kata temannya Rifki, Mochamad Agung Permana.