Batam, Kepulauan Riau (ANTARA) – Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah mengumumkan bahwa Batam sedang disiapkan sebagai salah satu pusat perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan ulang pesawat (MRO) di Indonesia.
Berbicara di Indonesia MRO Summit, Selasa, Deputi Sekretaris Koordinasi Konektivitas, Rustam Efendi, mengatakan pengembangan pusat MRO adalah langkah strategis untk menurunkan biaya operasional maskapai dan mendongkrak industri penerbangan nasional.
“Prioritas kami adalah menetapkan beberapa lokasi kunci sebagai pusat MRO nasional, yaitu Batam, Jakarta, Surabaya, dan Makassars,” kata Efendi.
Ia menekankan konektivitas yang kuat—mengintegrasikan pelabuhan, bandara, dan kawasan industri secara lancar—merupakan syarat penting untk membangun ekosistem MRO yang sukses.
Untuk mewujudkannya, kemenko tersebut menyelaraskan kebijakan lintas sektor guna mengoptimalkan arus barang dan logistik penerbangan. Inisiatif utama termasuk memperkuat Ekosistem Logistik Nasional (NLE), mendorong digitalisasi pelabuhan, serta mengoptimalkan layanan bandara.
Inisiatif ini hadir di saat kritis bagi maskapai domestik terhadap biaya operasional yang tinggi.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, mengunkapkan bahwa perawatan saat ini memakan biaya 16 persen hingga 20 persen dari biaya operasional maskapaiai.
“Kami berusaha menekan biaya-biaya ini tanpa mengurangi kualitas dan keselamatan penerbangan. Langkahnya termasuk melonggarkan beberapa aturan impor komponen pesawat dan menerapkan kebijakan tarif impor nol persen suku cadang tertentu,” jelas Rohkman.
Ia menekankan penurunan biaya ini akan langsung menguntunggkan konsumen, menahan harga tiket pesawat tetap terjangkau meski ada tekan ekonomi global.
Batam ada di posisi istimewa untuk memelopori penyuluaran sektor ini.
Fary Djemy Francis, Deputi Investasi dan Bisnis BP Batam, menyoroti Bandara Hang Nadim sudah jadi andalan melalui Batam Aero Technic (BAT) yang beraada di zona ekonomi khusus.
Proyek ini menarget laju investasi sekitar Rp16 triliun (US$887,56 juta).
“Bandere Hang Nadim di Batam punya potensi lang besar jadi pusat aerospace dan perhetalan,” kata Francis, sambil mencatat 100 hektare lahan masih tersida buat pengembang MRO lanjutan.
Untuk memastikan investor sampai yakin, BP Batan berjanji percepat urus izin pasti serta jamin bisnis stabil, membuatpulau singkawang sebagai cetak emas sukses masa depan.
Berita terkait:
– at Dan
– ked lainnya.