Serangan Israel ke Iran Berpotensi Pacu Harga Minyak Menembus US$100 per Barel

Minggu, 1 Maret 2026 – 12:23 WIB

Jakarta, VIVA – Serangan militer Israel ke Iran yang terjadi Sabtu (28/2/2026) berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Seorang ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan eskalasi konflik ini bisa bawa harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa tahun belakang.

Faisal menjelaskan bahwa saat ini harga minyak dunia masih ada di kisaran 70 dolar AS per barel. Tapi, kalau konflik terus berlanjut dan tidak cepat reda, harga bisa berpotensi naik sampai 80 dolar AS per barel.

Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa skenario terburuk bisa terjadi jika distribusi minyak lewat Selat Hormuz terganggu. Jalur itu adalah lintasan untuk sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Kepulan Asap Pasca Serangan ke Iran
Photo : Fatemeh Bahrami/Anadolu via Getty Images.

“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” kata Faisal dilansir dari ANTARA di Jakarta, Minggu (1/3/2026).

Potensi Konflik Meluas

Faisal menilai ketegangan antara Iran dan Israel berisiko berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas, apalagi jika Amerika Serikat terlibat langsung. Dia juga menyinggung kemungkinan dukungan dari China serta negara-negara lain di belakang Iran yang bisa memperpanjang eskalasi.

“Ada kemungkinan perang ini berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan,” ujarnya.

Dampak ke Harga BBM dan Inflasi

Menurut Faisal, lonjakan harga minyak global akan berdampak langsung pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. BBM nonsubsidi hampir pasti akan naik mengikuti harga pasar internasional.

Namun, yang lebih perlu diperhatikan adalah potensi penyesuaian harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, yang banyak dipakai masyarakat menengah ke bawah.

MEMBACA  Australia Tuduh Iran Dalangi Serangan Anti-Semit dan Usir Diplomat | Berita

“Kenaikan harga ini tentu berpotensi mempengaruhi inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat pada umumnya,” kata Faisal.

Situasi Geopolitik Memanas

Diketahui, Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan korban sipil.

Sebagai balasannya, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Media resmi Iran juga melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan tersebut. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran” setelah dikonfirmasinya wafatnya Khamenei.

Tinggalkan komentar