Sabtu, 17 Januari 2026 – 10:53 WIB
Jakarta, VIVA – Dunia medis terus berkembang dan membawa tantangan baru, seperti kasus penyakit degeneratif dan kanker yang makin meningkat, serta operasi-operasi yang makin kompleks. Menjawab tuntutan keselamatan pasien dan kualitas hidup setelah operasi, teknologi operasi berbantu robot mulai jadi solusi yang banyak diperhatikan di Indonesia.
Baca Juga :
Operasi SAR Ditutup, 1 Anak Pelatih Valencia CF Dinyatakan Hilang Dalam Tragedi KM Putri Sakina
Berbeda dengan operasi biasa, bedah dengan bantuan robot memungkinkan dokter bekerja dengan presisi yang lebih tinggi, sayatan yang lebih kecil, dan kontrol gerak yang stabil. Teknologi ini bertujuan membantu dokter bedah menangani kasus rumit dengan kerusakan jaringan yang lebih sedikit, rasa sakit pascaoperasi yang berkurang, dan waktu pulih yang lebih cepat. Yuk, scroll untuk tahu lebih lanjut!
Salah satu terobosan yang mulai dipakai adalah sistem Robotic Tele-Surgical, yaitu teknologi bedah robotik yang memungkinkan kolaborasi jarak jauh antar dokter. Dengan sistem ini, standar operasi tidak lagi dibatasi lokasi, tapi ditentukan oleh keahlian dokter dan dukungan teknologi presisi tinggi.
Baca Juga :
Trump Siap Luncurkan Operasi Militer Gelombang Kedua ke Venezuela
Sistem bedah robotik terbaru biasanya punya visualisasi 3D yang jelas dan kemampuan gerak alat dengan presisi sub-milimeter. Fleksibilitas alat bedahnya bahkan dikatakan melebihi batasan tangan manusia, sehingga sangat berguna untuk prosedur yang butuh ketelitian ekstrem, seperti operasi kanker dan organ dalam.
Direktur Utama RS MMC, dr. Isnindyarti, MKM, menekankan bahwa kehadiran teknologi ini menunjukkan perubahan mendasar dalam pendekatan layanan bedah modern.
Baca Juga :
Takut Anak Mandul karena Operasi Hernia? Begini Kata Dokter
“Ini bukan cuma tambah alat canggih, tapi lompatan besar dalam cara kami merawat pasien. Kami bawa masa depan bedah ke Indonesia sekarang. Dengan teknologi ini, kami mempersempit jarak antara pasien—di mana pun—dengan keahlian bedah terbaik. Targetnya jelas: hasil maksimal, risiko minimal, dan pemulihan lebih cepat agar pasien bisa cepat kembali beraktifitas,” kata dr. Isnindyarti dalam konferensi pers di RS MMC Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Dari sisi pasien, operasi bantuan robot menawarkan beberapa keuntungan klinis. Sayatan kecil bisa mengurangi pendarahan dan risiko infeksi, sementara presisi tinggi membantu menjaga jaringan sehat di sekitar area operasi. Akibatnya, masa rawat inap lebih singkat dan pasien bisa beraktifitas lebih cepat.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, teknologi telesurgery dinilai relevan untuk Indonesia yang punya tantangan dalam penyebaran dokter spesialis. Dengan sistem ini, kolaborasi dan pengawasan antar dokter dari berbagai wilayah jadi lebih mungkin, sehingga pasien di daerah tidak selalu harus melakukan perjalanan jauh ke pusat rujukan.