Saat AS dan Israel Membingkai Perseteruan dengan Iran sebagai Konflik Keagamaan

loading…

Para pemimpin AS dan Israel mulai menggambarkan konflik dengan Iran sebagai perang agama. Foto/NDTV

WASHINGTON – Saat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki hari kelima pada Rabu, para pejabat di Washington dan Tel Aviv menggunakan retorika yang menunjukkan bahwa kampanye militer melawan Teheran adalah sebuah perang agama.

Pada Selasa, organisasi hak sipil Muslim, Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengutuk penggunaan retorika seperti itu oleh Pentagon, menyebutnya “berbahaya” dan “anti-Muslim”.

Baca Juga: Kim Jong-un: Jika Iran Minta, Satu Rudal Saja Cukup untuk Lenyapkan Israel

AS dan Israel memulai serangan mereka terhadap Iran pada Sabtu lalu dan terus menyerang negara Islam tersebut sejak saat itu. Sebagai balasannya, Iran telah menyerang target-target di Israel, serta aset militer AS di Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Irak, dan Siprus.

Sebuah lembaga pengawas AS melaporkan bahwa pasukan Amerika telah diberitahu bahwa perang ini bertujuan untuk “memicu akhir zaman menurut Alkitab”. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga baru-baru ini menyatakan bahwa Iran dijalankan oleh “orang-orang fanatik agama yang gila”.

Apa yang Dikatakan Para Pemimpin Amerika dan Israel?

Lembaga pengawas AS, Military Religious Freedom Foundation (MRFF), menyatakan telah menerima keluhan melalui email bahwa anggota militer AS diberitahu perang melawan Iran dimaksudkan untuk “menyebabkan Armageddon”, atau “akhir zaman” menurut Alkitab.

Seorang bintara yang tidak disebutkan namanya menulis dalam email kepada MRFF: “Seorang komandan mendesak para perwira untuk memberi tahu pasukan kita bahwa ini adalah bagian dari rencana Tuhan dan ia secara khusus merujuk banyak kutipan dari Kitab Wahyu tentang Armagedon dan kedatangan Yesus Kristus yang akan segera terjadi.”

MEMBACA  Video Sandera Kurus Kering Dikecam saat Palang Merah Desak Akses

MRFF adalah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk menegakkan kebebasan beragama bagi anggota militer AS.

Bintara itu mengklaim komandan telah memberi tahu unit-nya: “Trump telah diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api di Iran untuk menyebabkan Armagedon dan menandai kembalinya Dia ke Bumi.”

Para pemimpin Israel dan AS juga telah menggunakan retorika keagamaan di depan publik.

Bulan lalu, Mike Huckabee, duta besar AS untuk Israel, mengatakan kepada komentator konservatif AS Tucker Carlson dalam wawancara bahwa akan “baik-baik saja” jika Israel mengambil “hampir seluruh Timur Tengah” karena tanah itu dijanjikan dalam Alkitab. Namun, Huckabee menambahkan bahwa Israel tidak berusaha melakukan hal itu.

Berbicara kepada media pada Selasa, Rubio mengatakan: “Iran dijalankan oleh orang-orang gila—orang-orang fanatik agama yang gila. Mereka memiliki ambisi untuk memiliki senjata nuklir.”

Dan, sehari sebelumnya dalam konferensi pers di Pentagon, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berkata: “Rezim gila seperti Iran, yang sangat terobsesi dengan delusi kenabian Islam, tidak boleh memiliki senjata nuklir.”

Dalam pernyatannya, CAIR mengklaim bahwa ucapan Hegseth adalah sebuah rujukan yang jelas terhadap kepercayaan Syiah tentang munculnya tokoh agama menjelang akhir zaman.

Tinggalkan komentar